Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts
Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts

Monday, November 07, 2016

Antara Curhat dan Ngomongin Buku :p

Punya me time belakangan ini menjadi sebuah barang langka buat saya. Di tengah-tengah waktu bolak-balik Cipayung, Purnawarman, Bintaro, ngurusin tetek bengek perskripsian, tambah ngurusin bocil-bocil yang sering kali bikin mager buat nyentuh skripsi dan perintilannya. Haaaaaahhhh, me time is coming. Me time dadakan sih, rencananya sebenernya adalah pengen nyicil skripsi lagi, tapi apa boleh buat, ternyata data belum dikasih, format skripsi juga belum dapet. Krik banget kan.

Setahun yang lalu, sebelum kuliah, waktu luang diisi dengan baca atau blogging. Kalau kerjaan di kantor udah beres dan belum ada yang minta dikerjain lagi, biasanya baca atau blogging, sambil pumping, biasanya baca juga, pulang kantor, pas jaman baru punya 1 bocil, waktu bocilnya udah tidur, baca buku lagi kalau belum ngantuk. Sejak kuliah malah jarang bisa baca buku (selain buku kuliah ya, kalau buku kuliah sih biasanya dibaca menjelang presentasi atau menjelang ujian :p).

Alhasil, ebook yang udah dibeli dari jaman sebelum kuliah jarang banget sempet kebaca. Ebook malang itu adalah....

(Lord Edgware Dies by Agatha Christie)

Sinopsinya bisa dicek sendiri di goodreads. :D Ceritanya menarik sih, bikin penasaran, meskipun agak muter-muter ya. Saya yang tipikal orangnya manut-manut aja jadi kebawa banget deh muter-muternya. Berikutnya, karena cukup banyak tokoh yang dimunculkan dan saya bacanya juga sering kepotong dalam waktu lama, jadi buat recall memori butuh waktu agak lama buat nyambung lagi ke ceritanya. Hehe. Enaknya novel kayak gini dibaca secara berkelanjutan kali ya, bukan kepotong-potong. Kalau pun kepotong-potong, jedanya jangan terlalu lama mungkin, biar orang yang punya ingatan pendek kayak saya ini gak blank begitu lanjut bacaan, hueehehehe..

Belum dirating yaaaa, soalnya belum selesai dibaca dan masih mau melanjutkan bacanya, penasaran sih siapa pelaku pembunuhan Lord Edgware yang sesungguhnya. ^^,

Thursday, August 13, 2015

Curhat Buku #2


Memasuki kali kedua ikut-ikutan meme dari Kak Orin. Hmm. Belakangan saya sedang jarang membaca buku. Apalagi buku cetak. Sudah hampir tidak punya waktu. Hiks. Inilah cicilan cerita singkat tentang buku yang saya baca baru-baru ini. Yah, nggak baru banget sih. Dibilang cicilan karena sebenernya banyak juga yang udah dibaca, tapi belum mood nulis semua.. :p

.: Recently Finished Reading :.


1. Ikut Terbang - Ceritanya singkat-singkat. Beberapa cukup menghibur, tapi ada juga yang krik-krik. Sebagian besar ceritanya tentang kesialan tokoh utamanya sih. Beli waktu ada promo diskon komik Agen Polisi 212 di Gramediana. Lumayan menghibur.

Tuesday, July 28, 2015

Just Like Strawberry by Maulida Sarah

Judul: Just Like Strawberry
Penulis: Maulida Sarah
Editor: Lana Puspitasari
Ilustrator: Chyntia Yaneta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 184
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-0950-7





Hari pertama Raya memulai kehidupan kuliahnya di Universitas Pertama sungguh sial. Dia terlambat datang ospek, membuat panitia ospek, Ruben, jatuh dan dikenai hukuman karena alasan terakhir itu. Namun, saat itu juga Ruben merasakan sesuatu terhadap Raya, cinta kah?


Di kampus itu, Raya juga berkenalan dengan Romeo, seniornya yang lain, yang mengingatkan Raya akan sahabat masa kecilnya, Remy. Sifat Romeo dan Remy mirip. Inilah yang membuat Raya nyaman berada di dekat Romeo. Bagi Romeo sendiri, sosok Raya mampu membangkitkan semangat hidupnya yang sempat padam. Apakah Romeo jatuh cinta kepada Raya? Lalu, bagaimana dengan perasaan Raya sendiri? Simak hubungan segi empat antara Ruben-Raya-Romeo-Syenna.


"Cinta itu memang asam manis, kayak Strawberry," kata Raya sambil meraih ponselnya.

Membaca novel ini rasanya kayak lagi nonton FTV. Ceritanya sederhana. Tapi cukup bisa membuat saya mengerutkan kening di awal karena nggak ngeh dengan hubungan kakak adik di keluarga Raya. Nggak ngeh urutannya blas. Siapa kakak pertama, siapa kakak kedua. Sayang aja sih. Saya berharapnya hubungan kekeluargaannya lebih digali lagi, meskipun konsentrasi cerita bukan pada hal tersebut.

Thursday, June 04, 2015

It's (Not) My Story by Neni Jahar

Judul: It's Not My Story
Penulis: Neni Jahar
Ilustrasi sampul: Eduard Iwan Mangopang
Editor: Irna Permanasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 208
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-0836-4




Kisah menegangkan ini bermula dari Mika dan Eriz yang sepakat membuat sebuah novel duet bergenre thriller. Sebelumnya, cerpen mereka berdua dimuat dalam majalah kampus. Inilah yang membuat kedua sahabat itu pede untuk menelurkan sebuah novel. Mereka pun memikirkan ide yang unik untuk novel perdana ini. Bagaimanakah sebaiknya kisahnya akan bermula?

Sebenarnya, selain Mika dan Eriz, ada satu orang anggota geng lagi, yaitu Naoki. Naoki ini laki-laki ya. Dan satu lagi seekor Kutu Loncat, sebut saja Kucat. Nama aslinya sih Karla. Dia pengen banget nempel terus sama Naoki. Jadilah Mika dan Naoki berpura-pura pacaran. Mika ini nggak sukanya minta ampun sama Kucat.

Friday, May 29, 2015

Dag, Dig, Dugderan by Leyla Hana

Judul: Dag, Dig, Dugderan
Penulis: Leyla Hana
Editor: Dewi Kartika Teguh Wati
Desain sampul: Gita Juwita
Tata letak isi: Rahayu Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 196
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-0806-7



Sri


Di rumah Bulek Sekar, ada pembagian tugas rumah tangga. Sri sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sejak tinggal bersama Mbah Putri. Dia kebagian mencuci piring dan menyapu halaman, tetapi Bagus dan Ningrum sering menyerahkan tugas mereka kepada Sri. Itu yang membuat Sri sering kelelahan. Apa daya, dia hanya menumpang. Maka dia harus menerima perlakuan apa pun yang ditujukan kepadanya.
Sri adalah pribumi asli. Tipenya seperti gambaran gadis desa jaman dulu, di mana gadis desa digambarkan sebagai sosok yang bisa diandalkan soal pekerjaan rumah tangga dan polos. Dalam novel ini karakternya ditambahkan menjadi sosok yang pandai. Dalam hatinya, terjadi pergulatan batin tentang eksistensi ibunya yang pergi merantau ke negara lain menjadi TKW. Sri ingin ibunya mendampingi dirinya, pulang. Namun, sang ibu tetap saja berkeras tetap bekerja di luar negeri, dan hanya mengirimi uang seadanya untuk kehidupan Sri bersama buleknya. Bagi Sri sebenarnya, keberadaan ibu di sisinya lebih penting dari uang semata.

Thursday, March 26, 2015

Cinta Sehangat Pagi by Aimee Karenina

Judul: Cinta Sehangat Pagi
Penulis: Aimee Karenina
Editor: Donna Widjajanto
Desain sampul: Suprianto
Tata letak isi: Shinzy & Fajarianto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 216
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-0924-8





Malam itu lagi-lagi Nino mengajak Selma menikah. Dan lagi-lagi dengan cara yang beneran-lo-ngajak-gue-nikah-dengan-cara-dan-situasi-kayak-gini. Nino Fahim Santos dan Selma Zafir memang baru (eh! sudah, menurut Nino) delapan bulan berpacaran. Sudah delapan kali pula Nino melamar Selma. Satu lamaran tiap bulan.

"Kalau nggak main-main, namanya apa? Kamu pernah mengajakku menikah saat kita terjebak macet, nonton film horor, dan sekarang di restoran mi? Mungkin selanjutnya kamu akan mengajakku menikah saat kita mengantre di kasir!" (hal. 11)

Nino dan Selma berkenalan dan akhirnya dekat karena ikan Paus. Nino saat itu sedang menjadi pembicara karena pengalamannya mengikuti kampanye pelestarian ikan Paus yang dinamai Viking Wars. Sedangkan Selma yang baru-baru ini mengikuti kegiatan konservasi ikan Paus, begitu "nyambung" berinteraksi dengan Nino soal pengalamannya itu.

Monday, March 16, 2015

Bintang Jatuh by Silvarani

Judul: Bintang Jatuh
Penulis: Silvarani
Editor: Gita Savitri
Desain sampul: Suprianto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 172
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-0968-2






"Aku tak punya pilihan lain selain memutuskan hubungan dengan Alena yang terus mendesakku untuk menikah. Aku tak bisa melangkahi mbakyuku. Konsentrasi keluarga kami saat ini juga bukan berpusat pada pernikahan, melainkan kesembuhan bapak." (hal. 3)

Untuk mengobati lukanya setelah putus dengan Alena, Bintang memutuskan untuk hijrah ke Yogyakarta, sekaligus melakukan liputan di sana. Ya, Bintang adalah seorang jurnalis yang berprestasi. Memori masa lalunya dengan Alena terus berputar. Alena yang selalu membangga-banggakannya di hadapan orang lain. Agak berlebihan, tapi Bintang tetap menyukainya. Perjalanan menuju Yogyakarta berhasil mendekatkan diri Bintang pada Sang Pencipta. Ah, manusia. Saat sulit memang selalu bisa membuatnya kembali mengingat Tuhannya.

Monday, December 08, 2014

Hapitamus: Masalah Kecil Beanerd by Larry Handra

Judul: Hapitamus - Masalah Kecil Beanerd
Director: Larry Hendra
Production team: Agnes Christina, Julius Tomo, Nathan Adianta, dkk
















Beanerd adalah seekor berang-berang (?). Sebagai seekor berang-berang, tentu tubuhnya mungil, tidak setinggi Hapitamus maupun teman-teman sesama hewannya yang lain. Usai pengukuran tinggi tubuh di sekolah, Beanerd merasa sedih karena dia paling pendek. Teman-temannya pun menghiburnya. Sebagai sahabat, Hapitamus memikirkan solusi agar Beanerd tidak bersedih lagi. Sepulang sekolah, Hapi bertemu Rhoni, si badak bercula satu, ternyata Rhoni sedang pusing karena tim basketnya kekurangan orang. Munculah ide untuk mengajak Beanerd bergabung dalam tim. Maukah Beanerd bergabung dalam tim basket? Berhasilkah Hapi dan kawan-kawan membuat Beanerd kembali ceria? Simak kelanjutan ceritanya dalam buku ketiga seri Hapitamus: Masalah Kecil Beanerd.

Monday, November 24, 2014

Misteri Pulau Tengkorak by Robert Arthur

Judul: Misteri Pulau Tengkorak (Trio Detektif #6)
Penulis: Robert Arthur
Alih bahasa: Agus Setiadi
Desain cover: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 200
Tahun terbit: 2014
Format: ebook











Jupiter Jones, Bob Andrews, dan Pete Crenshaw ditugaskan untuk menyelidiki misteri di Pulau Tengkorak. Selain itu, mereka memiliki tugas tambahan membintangi sebuah film di sana. Pulau Tengkorak dulunya adalah sarang bajak laut. Sang bajak laut menenggelamkan seluruh hartanya di perairan sekitar pulau itu, tetapi tidak ada yang pernah benar-benar menemukan harta karun di sana. Harta sang bajak laut seolah ditelan oleh Sang Laut.

Setelah sampai di bandara kota Melville, trio detektif dijemput olah seorang lelaki bernama Sam. Herannya, dia tahu bahwa mereka adalah detektif. Bukannya diantar ke Fishingport, tapi ketiga pemuda ini justru didamparkan Pulau Tangan, malam-malam di tengah badai. Chris Markos, remaja asal Yunani yang menemukan mereka dengan perahu layar kecilnya. Trio detektif pun diantarkan kembali ke Fishingport. Di tengah perjalanan melewati Pulau Tengkorak, mereka melihat hantu Sally Farington!

Friday, November 21, 2014

Love Bites by Edith PS

Judul: Love Bites
Penulis: Edith PS
Editor: Veronica B. Vonny
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 200
Tahun terbit: 2014
Format: ebook
*Beli di gramediana.com*










Vania adalah seorang wanita karier metropolitan masa kini. Sedangkan suaminya, Ivan, adalah seorang penulis. Mereka memiliki seorang puteri yang cantik bernama Cherish. Dengan keadaan seperti itu, Vania mau tak mau menjadi tulang punggung keluarga, sedangkan Ivan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Cherish.

Suatu ketika, Vania mendapat promosi dan perusahaan memberinya fasilitas apartemen yang lebih dekat dengan kantor. Sayangnya, apartemen tersebut lebih jauh jaraknya dari TK Cherish. Alhasil, Vania tinggal sendiri di apartemen itu dan Ivan bersama Cherish tinggal di apartemen lama. Berkumpul bersama di tiap weekend menjadi agenda rutin keluarga itu. Namun, Vania tidak pernah benar-benar bisa menghadirkan pikirannya karena rentetan pekerjaan selalu mengusik hari liburnya.

Tuesday, October 07, 2014

Katarsis by Anastasia Aemilia

Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Desain & ilustrasi cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia
Jumlah halaman: 264
Cetakan pertama: April 2013












Dalam rangka mengikuti tantangan membaca yang diadakan oleh Mbak Astrid, untuk tema "Blame It on Bloggers", saya memilih novel Katarsis untuk dibaca. Sebenarnya ada beberapa kandidat novel serupa, tapi karena novel ini sudah lebih dulu berada di timbunan, maka saya pun membacanya.

Tara Johandi tiba-tiba terkenal dengan julukan "Gadis yang Selamat". Dia adalah satu-satunya orang yang tidak terluka dalam peristiwa pembantaian itu. Ayah, bibi, dan sepupunya ditemukan tewas di rumah itu, sedangkan pamannya sekarat. Kejadian itu sangat memukul sisi kejiwaannya. Setiap melihat kotak perkakas dan mencium aroma mint, Tara disergap gelombang ketakutan yang teramat sangat.

Tara menjalani masa pemulihannya bersama seorang psikiater bernama Alfons. Ketika masih di rumah sakit, teror datang padanya lewat sebuah paket kotak perkakas, dengan isi seorang gadis yang perawakannya mirip Tara. Namun, gadis itu tak seberuntung dirinya yang masih hidup. Setelah keadaannya cukup stabil, Tara tinggal bersama Alfons. Ketika kewarasannya sedikit demi sedikit sudah pulih, teror kembali menghantui Tara.

Wednesday, March 12, 2014

Sarjana Misterius by Enid Blyton


Judul: Sarjana Misterius (Lima Sekawan #11)
Penulis: Enid Blython
Alih bahasa: Agus Setiadi
Desain & ilustrasi cover: Martina Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 256
Cetakan ke-17: Januari 2012
*Beli di obralan Gramedia Matraman*


Nama Enid Blython adalah nama yang melegenda di dunia perbukuan anak. Para pecinta buku-buku anak, terutama serial petualangan pasti mengenal penulis ini dengan segudang karyanya. Serial Lima Sekawan sendiri adalah salah satu serial populernya yang terdiri dari 21 buku. Buku ke-11 ini adalah awal perkenalan saya dengan Blython.

Kisah bermula dari Georgina (George) yang ditinggal ketiga sepupunya berlibur ke Puri Faynights karena ia sedang sakit dan orang tuanya tidak mengizinkannya untuk ikut berlibur. Namun, begitu kondisi George membaik, ibu George segera memperbolehkan anak itu dan anjingnya, Timmy menyusul ketiga sepupunya. Mendengar berita baik ini, George segera mengirim kartu pos kepada sepupu-sepupunya di Puri Faynights.

Di bukit seberang ada reruntuhan sebuah puri tua. Puri itu mempunyai empat menara. Tiga di antaranya sudah sangat rusak keadaannya. Tapi yang keempat tampaknya masih utuh. Jendela-jendelanya berupa celah sempit di tembok. (hal. 20)

Sampailah George di Puri Faynights keesokan harinya. Hal pertama yang dilakukan George, Timmy, Julian, Dick, dan Anne adalah MAKAN ES KRIM!! *ngiler* Setelah makan es krim, mereka kembali ke karavan. Di sana mereka memperbincangkan mengenai dua sarjana yang hilang secara misterius, mereka adalah Terry-Kane dan Jeffrey Pottersham. Mereka berdua diduga kabur dan menjual rahasia negara kepada negara lain.

Friday, February 21, 2014

The Age of Miracles by Karen Thompson Walker

Judul: Yang Pernah Ada
Judul asli: The Age of Miracles
Penulis: Karen Thompson Walker
Alih bahasa: Cindy Kristanto
Editor: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 344
Cetakan I: Juni 2013
*Hasil nitip Mbak Lina "Lady Story Telling"*



Tiada yang tahu kapan tepatnya kiamat akan benar-benar terjadi dan bagaimana proses detilnya kiamat tersebut. Rotasi bumi melambat sedikit demi sedikit, entah kenapa. Waktu siang dan malam semakin panjang. Selain itu, gravitasi bumi pun berubah, burung-burung semakin banyak yang tiba-tiba terjatuh. Tanaman banyak yang mati karena tak bisa beradaptasi. Begitu pula manusia, jumlah bunuh diri meningkat, kriminalitas pun merajalela. Bumi semakin kacau. Masyarakat mulai menumpuk makanan cepat saji di rumahnya, pom bensin pun selalu sangat ramai. Mereka melakukan apa pun untuk mengantisipasi datangnya bencana. Benarkah ini sebuah pertanda akan datangnya kiamat?

Friday, February 07, 2014

Judy Moody: Lagi Mood. Bukan Mood Bagus. Mood Jelek by Megan McDonald

Judul: Judy Moody: Lagi Mood. Bukan Mood Bagus. Mood Jelek
Judul Asli: Judy Moody Was in A Mood. Not A Good Mood. A Bad Mood
Penulis: Megan McDonald
Ilustrasi: Peter Reynolds
Alih bahasa: Dharmawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 144
Cetakan I: Juli 2006
*Beli di bukumoo123*


Percaya deh, Judy bukan anak nakal. Dia hanya sering ber-mood jelek. Di hari pertamanya masuk sekolah setelah libur musim panas, dia enggan sekali bangun, tapi terpaksa harus bangun. Eugh. Bahkan telur-matahari-yang-cerah buatan ayahnya tampak tidak cerah. Mood jeleknya juga dipicu karena dia tidak memiliki hal menarik apa pun selama liburan musim panas untuk digambarkan di kaosnya. Hey, tapi kemudian ayahnya mengingatkan bahwa liburan kemarin mereka makan ikan hiu. Mendengarnya, Judy langsung mengambil kaos putih, menggambarinya dengan ikan hiu bergigi tajam, dan tulisan "Aku Makan Hiu". Kreatif bukan?

Friday, January 24, 2014

The Empress of Ice Cream by Anthony Capella

Judul: The Empress of Ice Cream - Semanis Es Krim
Penulis: Anthony Capella
Alih bahasa: Gita Yuliani
Editor: Tatyana Soebianto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 552
Cetakan I: Juni 2013
*Hadiah giveaway-nya Mbak Luna*


Awalnya Carlo Demirco hanya seorang pemagang biasa bagi pembuat es krim kerajaan di Italia. Sebagai seorang pemagang, tentu dia tidak berhak membuat inovasi apa pun dari es yang dibuatnya. Namun, pada malam harinya secara diam-diam dia selalu bereksperiman membekukan banyak bahan makanan. Suatu ketika, ia bertemu dengan Lucian Audiger, orang Prancis. Audiger lah yang mengajak Demirco pergi ke Prancis dan memulai hidup baru sebagai seorang confectioner Kerajaan Perancis.

Tidak ada yang memberitahuku apa yang tidak bisa kulakukan: bahkan dalam waktu singkat sudah jelas bahwa sesuatu yang baru adalah bagian penting dari layanan yang diberikan Audiger dan diriku. Setiap kali Raja mengadakan jamuan makanan atau piknik, satu meja disediakan untuk kami isi. (hal. 45)

Di istana, Carlo menjalin hubungan dengan seorang nyonya istana, Olympe de Soissons. Bukan hubungan yang didasarkan pada cinta, melainkan pemuas nafsu belaka. Di sana pula, dia bertemu dengan seorang dayang-dayang dari istri adik Louis XIV bernama Louise de Keroualle. Carlo pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, cintanya bertepuk sebelah tangan karena Lousie hanya boleh menikah dengan keturunan bangsawan.

Tuesday, December 17, 2013

The Time Keeper by Mitch Albom

Judul: The Time Keeper: Sang Penjaga Waktu
Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 312
Cetakan ke-1: Oktober 2012
*Beli di Gramedia Matraman*



The Time Keeper adalah karya Mitch Albom pertama yang saya baca. Di awal saya merasa agak absurd soal ceritanya tentang Dor. Meskipun agak membingungkan di awal, tapi akhirnya saya mampu memahami pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya, yaitu untuk lebih menghargai waktu dengan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Dahulu kala, hidup tiga anak yang bersahabat, yaitu Nim, Dor, dan Alli. Dor dan Alli sendiri seolah tidak dapat dipisahkan, dan akhirnya mereka menikah setelah dewasa. Sejak kecil, Dor suka menghitung dan mengukur. Saking sibuknya mengukur, rumah tangga Dor jauh dari berkecukupan. Kerjanya hanya mengukur, mengukur, dan menghitung. Berbeda dengan Nim yang dewasanya telah memperoleh kekuasaan, bahkan membangun menara untuk mengalahkan dewa di langit.

Monday, December 16, 2013

Man Jadda Wajada by Akbar Zainudin

Judul: Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life
Penulis: Akbar Zainudin
Desain cover: Agus Purwanta
Layout: Rahayu Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 290
Cetakan ke-9: April 2012
*Beli di obralan Gramedia Matraman*



Buku ini berisi mahfudzat (kata-kata mutiara) yang penulis dapatkan semasa menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor. Setiap kata mutiara diikuti dengan penjelasan yang disesuaikan dengan kehidupan kita sehari-hari. Penulis membagi buku ini menjadi tiga bagian. Bagian pertama berjudul Mengubah Paradigma, berisi bagaimana mengubah cara pandang kita agar selalu bermuara pada segala sesuatu yang positif. Bagian kedua berjudul Mengenal Diri, berisi bagaimana seseorang mampu mengenal dirinya sehingga dapat memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya sendiri. Bagian ketiga berjudul Berkarya, berisi rencana aksi yang perlu direalisasikan dalam menggapai mimpi.

Buku ini tidak banyak membahas hubungannya kata-kata mutiara tersebut dengan dua sumber hukum umat muslim, yaitu Al Quran dan hadits. Yang banyak dibahas adalah mengapa kata-kata mutiara ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita dan hubungannya dengan kehidupan kita. Penjelasan dari kata-kata mutiara tersebut cukup ringan, meski beberapa cenderung bertele-tele dan berulang.

Sebenarnya saya agak speechless mau review buku ini seperti apa. x_x

Tidak sesuai dengan ekspektasi awal. Lebih suka baca majalah Tarbawi karena lebih "ngena".

*tumben review saya singkat sekali*

My Rate:

 


Wednesday, November 20, 2013

The Witches by Roald Dahl

Judul: The Witches (Ratu Penyihir)
Penulis: Roald Dahl
Alih bahasa: Diniarty Pandia
Ilustrator: Quentin Blake
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 240
Cetakan ke-5: Januari 2010



Apa yang terbersit di benakmu ketika mendengar kata "penyihir"? Memakai topi kerucut, sapu terbang, hidungnya mancung dan bengkok, daaaan tongkat sihir kah? Hmm, dalam kisah kali ini Roald Dahl memiliki ciri-ciri sendiri untuk mendefinisikan seperti apa sosok penyihir itu.

Aku harus tinggal bersama nenekku setelah meninggalnya kedua orang tuaku. Nenekku aslinya tinggal di Norwegia, tapi karena berbagai urusan kami berdua harus tinggal di Inggris (di rumahku). Saat berada di Oslo, Grandmamma (panggilan untuk nenekku) bercerita tentang lima orang anak yang hilang begitu saja dan bagimana cara mengenali penyihir. Hebatnya, nenekku ternyata adalah seorang pensiunan penyihirfilia, yaitu orang yang mempelajari penyihir.

"... Kau tetap tidak bisa yakin seratus persen apakah seorang wanita penyihir atau bukan hanya dengan memandangnya. Tapi jika dia memakai sarung tangan, jika dia memiliki lubang hidung besar, mata aneh, dan rambut yang kelihatan seperti wig, dan kalau giginya berwarna kebiruan--jika dia memiliki semua ciri itu, maka tindakan terbaik adalah kabur secepat-cepatnya." (h. 37)

Friday, November 08, 2013

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Judul: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis: Tere-Liye
Desain dan Ilustrasi Sampul: eMTe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 264
Cetakan ke-6: April 2012
*lupa beli dimana*



Cinta datang tanpa dikomando. Tiba-tiba dia muncul begitu saja. Aku pun tidak bisa memerintah kepada siapa cintaku harus berlabuh karena cinta berproses secara alami.

Oh iya, perkenalkan, namaku Tania. Malam ini aku berdiri di sini, di dekat jendela lantai dua toko buku terbesar di Depok untuk mengenang masa laluku bersama ibu, adikku (Dede), dan tentu saja dia, malaikat kami yang bernama Danar. Dialah yang memberi kami sekeluarga janji kehidupan yang lebih baik. Masa depan yang lebih indah.

Aku dan adikku tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah metromini. Kala itu, kami sedang mengamen, seperti biasa, dan dia tampaknya pulang kerja. Saat sedang meminta uang ke penumpang metromini, kakiku terkena paku payung. Hanya dia yang merespon kesakitanku, sedang penumpang lain cuma melongok atau bahkan tak acuh pada keadaanku.

Friday, October 18, 2013

Ways to Live Forever

Judul: Ways to Live Forever: Setelah Aku Pergi
Penulis: Sally Nicholls
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain dan ilustrasi sampul: Satya Utama Jadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 216
Cetakan kelima: Januari 2011
Harga: Rp 35.700
*Beli di bukabuku.com*



"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian," begitulah menurut Pramoedya Ananta Toer. Agaknya pikiran seperti ini juga dimiliki oleh Sam, seorang anak yang berusia sebelas tahun, penderita Leukemia. Dia membuat sebuah buku harian yang berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal pikirannya dan belum terjawab; tentang aktivitasnya; gambar-gambar; impiannya; banyak hal.

"Buat apa menciptakan setan untuk membuat takut diri sendiri," kata Granny dengan sangat tegas. "Sudah cukup banyak hal yang membuat kita khawatir, tanpa perlu ditambah-tambah." (h. 58)

Karena novel ini formatnya adalah buku harian, tentu di dalamnya penulis menggunakan sudut pandang Sam sebagai Aku. Satu jurnal yang ditulis Sam tidak menghabiskan banyak halaman, sekitar satu atau dua halaman kebanyakan. Nah, di dalam jurnalnya ini tidak melulu isinya tentang Sam yang sedang bercerita. Seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, Sam juga menempelkan benda-benda yang menurutnya pantas untuk ditempelkan di dalam jurnalnya sebagai kenangan. Semacam scrap book.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...