Showing posts with label Gagas Media. Show all posts
Showing posts with label Gagas Media. Show all posts

Friday, August 31, 2018

Someday by Winna Efendi

Judul: Someday
Penulis: Winna Efendi
Editor: Gita Romadhona
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: Cetakan pertama, 2017
Jumlah halaman: vii + 400 halaman
*baca di google play books*



Kadang manusia harus membuat pilihan-pilihan yang salah sebelum menemukan pilihan yang terbaik. Harus terjatuh dulu, agar tahu rasanya bangkit.

Novel ini berkisah tentang sepenggal kehidupan Chris. Gadis tomboi yang skeptis pada cinta. Chris berkaca pada kehidupan orang tuanya, keluarganya. Seingat Chris, awalnya pertengkaran kedua orang tuanya sering kali berkisar seputar Colin. Dia adalah adik kandung Chris yang memiliki Trysomi 21. Sebuah kelainan genetik yang menyebabkan Colin mengalami keterbelakangan fisik dan mental.

Aku tidak ingin seperti Milo, yang terus mengecek ponsel setiap kali mengirimkan pesan kepada Kak Mel, menanti-nanti jawabannya dengan penuh harap. Aku tidak ingin menunggu kepastian untuk sebuah jawaban mengenai perasaanku. (Halaman 10)

Setidaknya Chris masih beruntung karena memiliki Milo, sahabatnya dari kecil. Tidak ada rahasia di antara mereka, sampai Chris dekat dengan Arthur Soembardi atau yang biasa dipanggil Art. Art yang misterius tapi mengagumkan, bagi Chris. Lucunya, kedekatan Chris dengan Art momennya tidak jauh berbeda dengan kedekatan Milo dengan Kak Mel, wanita idaman Milo sejak pertama kali menginjakkan kaki di SMA Pelita. 

Friday, June 27, 2014

Catatan Musim by Tyas Effendi

Judul: Catatan Musim
Penulis: Tyas Effendi
Editor: eNHa
Proofreader: Patresia Kirnandita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah halaman: 270
Cetakan pertama, 2012
*Hibah dari Mbak Ziy*



Masih sambil mengoleskan warna pada kanvas itu, aku bergumam, "Bagiku, melukis adalah mengungkapkan sesuatu tanpa membutuhkan kata-kata."
Gadis itu mengulum sebuah senyum tanpa mengangkat wajahnya. "Menerjemahkan, mengungkapkan sesuatu tanpa membutuhkan gambar." (hal. 18)

Pertemuan itu dimulai di sebuah shelter di sebrang Gereja Katedral Bogor ketika hujan sedang turun. Bukan hanya sekali dua kali mereka bertemu. Menunggu hujan reda di shelter seberang Katedral seolah sudah menjadi rutinitas mereka di sore hari. Gema Agasta, Tya Mahani, shelter, dan hujan. Hingga ketika salah satu dari keempat komponen itu tidak ada, ada yang mengganjal dalam hati Gema maupun Tya. Gema adalah seorang penggila seni lukis, sedangkan Tya adalah mahasiswi Sastra Inggris yang bekerja part time sebagai penerjemah novel asing. Bagi Tya, pohon mahoni adalah pohon yang merepresentasikan dirinya, sedangkan Gema direpresentasikan oleh pohon trembesi, pohon hujan.

Thursday, October 10, 2013

Melbourne: Rewind

Judul: Melbourne: Rewind
Penulis: Winna Efendi
Editor: Ayuning, Gita Romadhona
Proofreader: Mita M. Supardi, Resita Wahyu Febiratri
Penerbit: Gagas Media
Jumlah halaman: 340
Cetakan kedua: 2013
*Pinjem ke Lulu*



Adakalanya manusia ingin diizinkan untuk memutar waktu dan kembali ke masa lalu, memperbaiki semuanya.

Maximilian Prasetya (Max)

Buat gue, cahaya adalah konsep universal, tetapi sebenarnya sangat pribadi. Setiap orang dapat melihatnya, merasakannya, tetapi persepsi mereka mengenainya bervariasi, tergantung emosi dan pengalaman dari sang penglihat. (h. 8)

Gue adalah seorang light addict, sejarahnya bisa di baca di bab pertama. Suatu hari gue menemukan sebuah walkman jadul dan sudah tak berbentuk di counter Lost and Found kampus. Gue pikir walkman ini tidak ada pemiliknya karena sepertinya sudah lama berada di sana. Eh, tiba-tiba pas gue lagi tergesa-gesa menuju kelas berikutnya, ada seorang cewek yang manggil gue dan minta walkman itu. Begitulah sejarah gue ketemu Laura Winardi, perempuan yang jadi temen nongkrong di Prudence (coffee shop favorit gue), dan akhirnya jadi cewek gue dan sekaligus mantan.

Monday, September 23, 2013

Biru pada Januari

Judul: Biru pada Januari
Penulis: Aditia Yudis
Editor: Yulliya
Proofreader: Windy Ariestanty
Penerbit: GagasMedia
Jumlah halaman: 368
Cetakan pertama: 2012
Harga: -
*Ikutan @EstafetBuku*










"Setiap hari, Samudra selalu menyempatkan diri untuk berkabar kepada Mayra--semua itu sudah menjadi bagian dari rutinitas Samudra. Meskipun sebenarnya, kehadiran nyata Mayra di sisinya selalu Samudra harapkan. Mencintai dalam jarak sama halnya memeluk bayangan--tak terlihat, tetapi nyata."  (h. 12)

Samudra dan Mayra sudah tujuh tahun berhubungan dan saat ini mereka telah bertunangan. Waktu pernikahan mereka tersisa enam bulan lagi. Seharusnya tidak selama itu, Mayra yang meminta kepada Samudra untuk menunda pernikahan mereka enam bulan lamanya. Samudra bekerja dan telah memiliki rumah--rumah masa depannya dengan Mayra--di Balikpapan. Namun, Mayra masih belum mau tinggal di Balikpapan dan melepaskan kariernya sebagai seorang editor. Alhasil, sampai saat ini keduanya berhubungan jarak jauh Jakarta-Balikpapan, meskipun Samudra kerap datang ke Jakarta. Keduanya berkeras, karier keduanya sedang bagus di bidang masing-masing, sehingga tidak ada yang mau mengalah harus tinggal di salah satu kota mereka. Samudra yang seorang direktur perusahaan, dan Mayra yang seorang editor, ditambah lagi sebentar lagi novel Mayra akan difilmkan. Jika membicarakan soal hal ini, tidak jarang pembicaraan mereka berakhir pada pertengkaran kecil.

Monday, February 11, 2013

The Secret Life of Bees

Judul: The Secret Life of Bees
Penulis: Sue Monk Kidd
Penerjemah: Endah Sulistyowati
Editor: Ayuning, Gita Romadhona
Penerbit: Gagas Media
Jumlah halaman: 428
Tahun terbit: 2012


Lily Owens adalah seorang anak usia 14 tahun yang tinggal bersama ayahnya, T. Ray-tanpa kehadiran sang Ibu dan seorang pengasuh negronya, Rosaleen Daise. Ayahnya memiliki usaha perkebunan persik. Ibunya, Deborah Fontanel sudah lama meninggal sejak usianya 4 tahun karena kecelakaan pistol, setidaknya itulah yang diingatnya.

Suatu sore, Lily memergoki Rosaleen begitu tertarik dengan tayangan televisi. Ternyata saat itu sedang disiarkan penandatanganan Undang-Undang Hak Sipil oleh Presiden Amerika Serikat. Rosaleen memutuskan untuk pergi ke Kota Sylvan dan mendaftarkan diri untuk memberikan suara pada perayaan empat Juli esok harinya, ditemani Lily yang juga ingin keluar rumah pada hari ulang tahunnya.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan tiga orang pria yang sedang bermain kartu. Mereka menghina Rosaleen dan karena marah, Rosaleen menuangkan isi kotak penampung ludah tembakaunya ke sepatu mereka. Akhirnya Rosaleen dipukuli oleh pria-pria itu. Saat polisi datang, dia justru menangkap Lily dan Rosaleen. Lily tidak berada lama di kantor polisi karena T. Ray segera membawanya pulang. Tapi sesampainya di rumah, mereka bertengkar dan T. Ray mengatakan kalau yang sebenarnya terjadi di masa lalu adalah Deborah kabur meninggalkan Lily dan pada hari ia meninggal, kembali hanya untuk mengemasi barang-barangnya.

Bimbang, gelisah, Lily seolah mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya pergi dari rumah. Dan, ia melakukannya, menghampiri Rosaleen yang ternyata sudah dipindahkan ke rumah sakit karena (katanya) jatuh dan terluka. Lalu mereka kabur dari rumah sakit dan menuju Tiburon, kota yang mirip Sylvan, tapi tanpa kebun persik. Kota yang tertulis di belakang foto Maria berkulit hitam, peninggalan ibu Lily. Foto tersebut mengarahkan mereka pada tiga orang wanita pemilik peternakan lebah, produsen Madu Black Madonna, yaitu August, May, dan June.
"Maksud perkataan May adalah ketika tiba waktunya untuk mati, maka matilah, dan ketika tiba waktunya untuk hidup, maka hiduplah. Jangan menjadi orang yang setengah-setengah dalam hidup, tetapi jalanilah kehidupan itu secara utuh, seolah kau tidak takut." (halaman 279)

Bagaimana kelanjutan kisah perjalanan Lily dalam mencari jati diri ibunya? Benarkah ibunya dulu pergi meninggalkannya?

***

Sang Ratu adalah kekuatan yang menyatukan komunitas; jika sang Ratu dipindahkan dari sarang, para pekerja bisa merasakan ketidakhadirannya dengan cepat. Setelah beberapa jam, atau bahkan kurang dari itu, mereka akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya kepemimpinan.

Kata-kata di atas adalah salah satu dari kutipan-kutipan mengenai kehidupan lebah yang digunakan oleh Sue Monk Kidd di tiap awal bagian. Saya akui memang banyak kalimat yang dapat dikutip dari buku ini. Termasuk kutipan kehidupan lebah di atas. Kalau mau diselami, kutipan-kutipan yang ada di dalam buku ini sangat bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan keseharian kita. Nilai plus lagi, cukup banyak pengetahuan tentang dunia peternakan lebah yang dapat pembaca nikmati. Ditambah, pengetahuan tentang situasi yang terjadi di Amerika sana saat rasialisme masih terjadi. I got the feelin, seriously.

Seperti biasa, saya senantiasa memiliki ekspektasi tertentu atas buku yang akan saya baca. Dan kali ini ekspektasi saya ada soal judul dengan isinya. Saya pikir di dalam buku ini penulis akan menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan falsafah hidup lebah. Ternyata tidak, hehe. Novel ini lebih menceritakan tentang proses pencarian fakta masa lalu seorang ibu oleh anak perempuannya. 

Alurnya berjalan cukup lambat, dengan POV orang pertama. Dari sini pembaca dapat merasakan kelabilan tokoh utama, Lily. Saya bisa maklum sih karena usianya yang masih belasan itu dan (mungkin) karena kondisi keluarganya yang, yeah, tanpa ibu dan dengan ayah yang seperti bukan ayahnya. Anyhow, tetep aja kalau pas baca pemikiran-pemikiran Lily yang lagi kumat labilnya bikin gemes. :D

Satu lagi kekurangannya, yaitu ada banyaknya typo dalam edisi yang diterbitkan oleh Gagas Media. Selain typo, penggunaan EYD-nya juga beberapa ada yang kurang pas, termasuk penggunaan tanda bacanya. Pun pemilihan katanya ada yang kurang pas, misalnya di halaman 19.
"Yah sebenarnya, aku berpura-pura mengerang, tetapi di dalam hati aku terlonjak senang..."
Err, mengerang??

Yap, akhir kata, saya memberikan nilai....


"Kami hidup untuk madu. Kami menelan sesendok madu setiap pagi untuk membangunkan kami dan sesendok lagi setiap malam untuk membantu kami tidur." (halaman 113)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...