Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting bahasa: Mastris Radyamas
Setting: Pipi Kaira
Desain sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Gizone Books
Jumlah halaman: 400
Cetakan pertama: September 2012
Harga: Rp 35.000
*Novel pertama yang dibeli dengan PO*
Ular...ular...dan ular. Hewan itu terus membuntuti kemana pun Rinai pergi. Hampir selalu muncul di bunga tidur milik Rinai. Ular yang menurut Freud ditafsirkan sebagai kelamin laki-laki. Sebegitu kotorkah pikiran Rinai hingga dia seringkali memimpikan hewan gilik itu. Atau ada maksud lain dari mimpi yang selama ini menghantui dalam tidurnya.
Ular itu mengancam mata. Maka ia tak berani membuka, kecuali memejamkannya rapat-rapat. Jarak demikian dekat, hingga terasa bau lendir napas menyapu muka. Tak diketahui bagaimana ular itu masuk kemari, tahu-tahu telah merambat dan bergantung di langit-langit, mengaitkan ekor, meneliti tiap gerakannya. (h. 194)
Rinai dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang memegang teguh filosofi Jawa. Rinai dituntut untuk menjadi wanita yang lembut, mampu menoleransi orang lain, sabar, dan harus selalu mengalah. Begitulah wanita Jawa seharusnya, menurut Bunda Rafika, ibu Rinai yang begitu memegang teguh filosofi Jawa dalam hidupnya. Bunda Rafika yang bisa dikatakan dalam bahasa modern justru lebih tepatnya tertindas karena dia wanita yang harus menurut, sabar, mengalah, dan blablablabla.. Tertindas oleh Eyang Kakung dan Mbah Putri, oleh Pakde Harun dan keluarganya, oleh Ayah, bahkan oleh Guntur Alam, anaknya sendiri. Dengan tetek bengek kejawaan itu, Rinai menurut saat masih kanak-kanak. Semakin beranjak dewasa, mulai terjadi pemberontakan-pemberontakan kecil. Terlebih saat dia kuliah di Surabaya dan tinggal bersama Tante Sofia sementara, yang dianggap sudah agak meninggalkan filosofi Jawa. Tante Sofia lebih apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi, bahkan terkesan galak.
