Showing posts with label Qanita. Show all posts
Showing posts with label Qanita. Show all posts

Friday, January 03, 2014

Anne of Green Gables by Lucy M. Montgomery


Judul: Anne of Green Gables
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Proofreader: M. Eka Mustamar
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 516
Cetakan I: Desember 2008
*Pinjam ke @EstafetBuku*

Peringatan: Jangan pernah memanggil Anne dengan sebutan WORTEL!

Anne, gadis yatim piatu berusia 11 tahun, datang ke Desa Avonlea karena sebuah kekeliruan. Dua bersaudara Marilla dan Matthew Cuthbert ingin mengadopsi anak untuk membantu membantu mengurus rumah mereka yang dikenal sebagai Green Gables. Mereka meminta sebuah panti asuhan untuk mengirim seorang anak laki-laki. Namun, yang datang ternyata gadis kecil berambut merah, Anne.

Mulanya kehadiran Anne tak disukai banyak orang. Apalagi ada desas-desus tentang asal-usulnya yang tak jelas. Namun, sikapnya yang ceria, tutur katanya yang blak-blakan, perilakunya yang polos dan kadang konyol meluluhkan hati Marilla dan Matthew. Anne juga segera jatuh cinta pada Desa Avonlea dan Green Gables.

Monday, August 19, 2013

The Fault in Our Stars

Judul: The Fault in Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang
Penulis: John Green
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 424
Cetakan ke-I: Desember 2012
*Menang GA dari Mbak Ren


Jadi, darimana kita mau memulainya? Hm, aku bingung harus menulis apa di sini. But I've decided to try. 

Okay, here I come.

"Bahkan kanker pun sesungguhnya bukan orang jahat. Kanker hanya ingin hidup." - Hazel Grace (h. 330)

Hazel Grace Lancester, seorang remaja berusia enam belas adalah seorang pengidap kanker tiroid. Setiap pekan dia harus menghadiri pertemuan Kelompok Pendukung, semacam pertemuan-saling-dukung orang-orang penderita kanker. Di sinilah dia bertemu dengan Augustus Waters, dia yang berhasil selamat dari kanker, tapi harus kehilangan sebelah kakinya. Gus (begitu panggilannya) datang ke pertemuan itu atas ajakan Isaac, sahabatnya. Isaac juga anggota Kelompok Pendukung, penderita kanker mata yang telah kehilangan salah satu matanya. Dan nantinya dia juga harus kehilangan mata satu-satunya itu menjadi buta.

Wednesday, May 15, 2013

Anne of Rainbow Valley

Judul: Anne of Rainbow Valley (seri #7 dari Anne of Green Gables)
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Esti B. Habsari
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 428
Cetakan I, 2011
*beli di bukukita.com*

Dr. dan Mrs. Blythe--panggilan Anne Shirley sekarang baru saja pulang ke desa Glen St. Mary setelah tiga bulan bepergian ke Eropa. Anne memiliki enam orang anak, yaitu Shirley, Rilla, Jem (yang lahir di House of Dream), Walter, dan si kembar Nan dan Di. Tempat favorit mereka adalah Lembah Pelangi. Ketika mereka sedang memasak ikan trout di lembah pelangi, bau itu tidak sengaja tercium oleh anak-anak pendeta. Anak-anak pendeta yang terdiri dari Faith, Jerry, Carl, dan Una langsung mencari tahu dari mana asal aroma sedap itu dan mereka menemukan anak-anak Mrs. Blythe di Lembah Pelangi.

Anak-anak pendeta bernasib jauh berbeda dengan anak-anak Blythe, mereka terlihat kurang mendapat perhatian dari sang ayah, Mr. Meredith. Baju yang mereka kenakan kumal, mereka sering berkeliaran, bahkan orang-orang menyebut mereka sebagai anak yang nakal. Ini semata-mata karena kurangnya perhatian dari Mr. Meredith atas anak-anaknya. Di rumah, mereka tinggal bersama Mr. Meredith, dan Bibi Martha sebagai kokinya. Tapi masakan Bibi Martha sangat tidak layak makan. Um, ya, itu menurut Mary Vance, gadis yang mereka temukan di lumbung tua dalam keadaan kelaparan dan sangat kacau. Namun, tidak ada yang dapat dilakukan tentang rasa masakan Bibi Martha.

Mary Vance tidak luput dari kebiasaan labelisasi penduduk Glen, karena berbicara kasar, bertempramen buruk, dan pernah mengusili Rilla Blythe. Ketika didapati bahwa Mrs. Wiley meninggal, penduduk Glen berpendapat bahwa Mary Vance harus dikembalikan ke panti asuhan karena tidak ada yang bisa menampungnya di desa Glen. Namun, Mary tidak menyukai rencana itu, dia tidak ingin berpisah dengan anak-anak pendeta maupun anak-anak Blythe. Akhirnya, Una meminta kepada Miss Cornelia untuk mau menerima Mary Vance di rumahnya.

Setelah itu banyak terjadi kesalahpahaman antara anak-anak pendeta dengan penduduk desa Glen. Karena 'rajin'nya penduduk Glen bergosip, tentu kesalahpahaman ini terus meluas sehingga semua orang melabeli anak-anak pendeta sebagai anak-anak nakal karena kurangnya perhatian dari ayahnya. Namun, Anne (Mrs. Blythe) tidak pernah berpendapat demikian. Dia selalu menanggapi 'kenakalan-kenakalan' anak-anak pendeta dengan positif.

Memikirkan apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan rasanya tidak pernah cukup aman. Saat kita membayangkan telah menyelesaikan cerita kita, takdir telah bersiasat, membalik halaman buku kita dan menunjukkan bab lain kepada kita. (hal. 175)

Apa saja yang terjadi di desa Glen St. Mary? Bagaimanakah hubungan persahabatan antara anak-anak pendeta, anak-anak Blythe, dan Mary Vance?

Di seri terakhir ini tidak banyak diceritakan tentang kehidupan Anne Shirley (Mrs. Blythe), tetapi lebih ke cerita kehidupan anak-anak rumah pendeta dan pendetanya sendiri, Mr. Meredith, mulai dari permasalahannya sampai ke cara mereka mencari solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut.

POV yang digunakan adalah orang ketiga. Pembaca diajak memahami karakter tokoh-tokohnya dengan bantuan deskripsi langsung oleh penulis cerita. Alurnya berjalan sedang, tidak terlalu cepat maupun lambat. Kesalahan tanda baca maupun pengetikan masih ada, tapi jumlahnya sangat sedikit, sehingga sama sekali tidak membuat saya terganggu untuk menikmati ceritanya. Konfliknya cukup banyak di dalam novel ini tapi tidak terlalu besar. Malah terkadang konfliknya diselesaikan dengan cara yang memunculkan konflik lagi. Emosi pembaca dibuat naik turun oleh kisah-kisah di dalamnya. 

Dari sini saya mendapat gambaran tentang banyaknya saudara kandung yang kita miliki itu ternyata cukup menantang. Dalam kasus anak-anak pendeta ini ada empat karakter berbeda yang harus dihadapi. Tidak jarang mereka berselisih pendapat. Ada yang begitu sensitif, sehingga tidak jarang dia menangis karena ketidaktegaannya atas sesuatu atau karena kesedihannya. Overall, saya sangat menikmati kisah di dalam novel ini. Penulis sangat piawai dalam menciptakan karakter-karakter tokohnya, sehingga saya benar-benar bisa membedakan siapa yang berkata begini dan begitu, siapa yang melakukan ini dan itu.. :D 

My Rate:
 

Friday, May 03, 2013

The Secret Garden: Persahabatan Sejati di Tengah Taman Rahasia

Judul: The Secret Garden: Persahabatan Sejati di Tengah Taman Rahasia
Penulis: Frances Hodgson Burnett
Penerjemah: Rien Chaerani
Penyunting: Nur Aini
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 460
Cetakan I, Agustus 2009
*Pinjem Mbak Lilis*

Mary Lennox adalah anak yang menyebalkan. Dia berwajah tirus, mungil, bertubuh kecil-kurus, berambut halus-tipis, dan bermuka masam. Ia adalah anak yang tidak diinginkan ibunya. Oleh karena itu, sejak kecil Mary diasuh oleh seorang ayah, yaitu pengasuh anak di India.

Hingga suatu pagi, kolera mewabah di India. Semua orang panik dan melupakan Mary. Kedua orang tuanya meninggal karena kolera. Mary pun dikirim ke rumah pamannya, Archibald Craven, di Misselthwaite Manor. Mary dijemput oleh Mrs. Medlock, wanita yang menurutnya orang paling menyebalkan, dengan wajah menor dan topi halus yang murahan. Mrs. Medlock mendeskripsikan tempat tinggal Mary nanti dengan cukup detil dan diam-diam Mary tertarik tentang rumah itu.

Di rumah paman Craven, dia bertemu dengan Martha, seorang pembantu muda yang berbicara dengan logat yang unik, logat Yorkshire. Dari Martha inilah dia bisa mengenal Dickon, bocah yang sangat bersahabat dengan alam. Dan alam pun seakan begitu menyukainya. Di sana, Mary juga berkenalan dengan seorang lelaki tua bernama Ben Weatherstaff dan burung robin jantan yang sangat cerdas. Hari demi hari kelakuannya membaik, ia mulai merasa lapar dan segar bugar. Akan tetapi, Mary juga beberapa kali mendengar suara tangisan anak kecil di rumah itu. Ketika dia menanyakan hal ini pada orang lain di Misselthwaite Manor, mereka seolah menutupi sesuatu.

Lalu dengan bantuan burung robin, Mary menemukan kunci taman rahasia yang sudah sepuluh tahun tidak diurus. Hari itu juga dia menemukan keberadaan taman rahasia, tentu dengan bantuan si burung robin. Ternyata taman itu tak seluruhnya mati, Mary memutuskan untuk mencabuti rumput dan tanaman liar hingga bermunculan ruang-ruang kosong di sekeliling tunas tanaman yang dilihatnya. Dan di taman itulah Mary bertemu Dickon.

Pada suatu malam, dia tidak bisa tidur, dan tiba-tiba mendengar suara tangisan sedih dari ujung koridor.  Mary segera mencari tahu dari mana suara itu berasal dan suara milik siapakah itu. Dalam waktu singkat dia sudah berada di depan pintu di balik permadani hiasan dinding dan segera mendorong pintu tersebut. Mary menemukan seorang anak laki-laki berwajah mungil dan tirus di dalamnya, kulitnya seputih gading, dan matanya seperti lebih besar dari yang seharusnya. Anak itu bernama Colin, anak laki-laki Mr. Craven. Colin selalu merasa umurnya tidak akan panjang.

Dua bocah laki-laki dan seorang gadis kecil menikmati pemandangan musim semi. Aku jamin akan lebih baik daripada obat-obatan dokter. (Dickon, halaman 254)

Bagaimanakah petualangan Mary, Dickon, dan Colin di dalam taman rahasia? Benarkah Colin tidak akan berumur panjang?
 
Diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, buku ini dengan jelas mendeskripsikan karakter tiap tokohnya. Karakter tokoh dijelaskan langsung oleh si pencerita dan melalui percakapan antartokohnya, sehingga pembaca tidak perlu repot menganalisisnya. Buku ini diceritakan dengan alur maju, slow pace, sangat menggemaskan bagi orang yang ingin segera mengetahui kelanjutan kisahnya.

Dari sisi penulisan, terdapat kesalahan yang konsisten, yaitu tidak adanya tanda koma (,) sebelum kata "sehingga" dan setelah kata "namun". Selain itu terdapat beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh di dalamnya.

Dalam buku ini terdapat dua logat bahasa, yaitu logat Yorkshire dan logat bahasa yang digunakan secara umum (tidak disebutkan nama logatnya). Sayangnya, perbedaan logat tidak terlalu kentara dalam bahasa tulis versi terjemahan. Kalau versi aslinya saya kurang tahu, hehe. Di versi terjemahan ini, yang cukup membedakan adalah penggunaan kata "aye" untuk menunjukkan persetujuan atau menggantikan kata "ya" atau "yeah". Ada juga yang diterjemahkan seperti logat jawa, contohnya kalimat: "ndak bisa make baju ndiri?, yang diucapkan oleh Martha.


Trivia
The Secret Garden pernah difilmkan pada tahun 1993. Pemainnya adalah Kate Maberly (Mary Lennox), Maggie Smith (Mrs. Madlock), John Lynch (Mr. Craven), Andrew Knott (Dickon), Laura Crossley (Martha), Heydon Prowse (Colin), dan Walter Sparrow (Ben Weatherstaff). Di film ini disebutkan kalau orang tua Mary meninggal karena gempa bumi.





Penulis

Frances Hodgson Burnett adalah penulis cerita anak-anak. Pada 1886, ia menerbitkan Little Lord Fauntleroy yang pada awalnya ditujukan unuk anak-anak, tetapi lebih disukai oleh para ibu. Dia dilahirkan di Cheetham, dekat Manchester, Inggris. Frances mulai menulis untuk mengumpulkan uang bagi keluarganya. Ia mulai menulis cerita di suatu majalah pada usia 19 tahun. Pada tahun 1870 ibunya meninggal, dan pada tahun 1872, dia menikah dengan Swan Burnett. Karya-karyanya yang lain adalah Sara Crewe, yang kemudian ditulis ulang dengan judul A Little Princess, The Lady of Quality; The Dawn of Tomorrow, The Lost Prince, The Shuttle, dan The White People.


My Rate
 
Agaknya saya memang tidak cocok membaca buku klasik. I feel bored. :p
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...