Kali ini saya ingin mencoba membuat
sebuah resensi dari buku yang pernah saya pinjam dari teman kosan,
Rumah Cokelat. Pertama kali mendengar judulnya, saya berpikir bahwa buku
ini bercerita tentang bisnis makanan Cokelat atau sejenisnya, tapi
ternyata bukan. Buku ini belabel Mom-lit di halaman mukanya. Namun,
bukan berarti buku ini hanya boleh dibaca oleh kaum ibu, para remaja
atau yang belum menikah pun tetap saya rekomendasikan untuk membacanya.
Belajar boleh dong?! :D
Judul: Rumah Cokelat
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Buah Hati
Tebal buku: 226 halaman
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp 38.000,00
Novel
ini bercerita mengenai kehidupan rumah tangga Hannah Andhito, seorang
ibu muda, menyukai kegiatan melukis dengan cat air, dan memiliki karir
yang cemerlang di Jakarta. Awalnya ia berpikir bahwa kehidupan rumah
tangganya bersama Wigra -yang bekerja sebagai konsultan IT- baik-baik
saja. Namun, ketika pada suatu pagi ia mendengar anak semata wayangnya
menyebut nama pengasuhnya dalam tidur, mulailah ia gelisah. Ia mulai
takut tidak memiliki tempat di hati sang anak, cemburu pada sang
pengasuh. Sejak saat itu ia benar-benar bertekad untuk menjadi ibu yang
baik bagi anaknya, bagi keluarganya.
Usaha Hannah untuk menjadi
ibu sejati tidaklah mudah. Banyak aral melintang di depan, mulai dari
Eyang Ti yang terlalu memanjakan Razsya, sampai pada perubahan drastis
yang harus ia jalani karena kepergian Upik, pengasuh anaknya. Sukseskah
ia menjalani kehidupan barunya? Jawabannya dapat ditemukan setelah
membaca buku ini sampai habis.
Rumah Cokelat memberikan pengajaran
kepada pembacanya mengenai hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh
seorang ibu dan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan oleh mereka
dengan cara yang menyenangkan, tidak kaku dan membosankan. Pengajaran
ini dapat pembaca temukan dalam alur cerita novel dengan mudah,
contohnya saja Hannah yang selalu berusaha untuk tidak berbohong pada si
kecil Razsya, meskipun itu sebuah
white-lie.
Bahasa yang
digunakan oleh penulis campuran, antara bahasa Indonesia dengan bahasa
Inggris. Cukup menunjukkan bahwa pasangan tokoh dalam cerita adalah
orang yang berpendidikan tinggi. Namun, yang kurang saya sukai adalah
adanya umpatan-umpatan dalam bahasa Inggris di dalamnya.
Menurut teman saya yang mengikuti perkembangan novel-novel karya Sitta Karina, novel Rumah Cokelat ini tidak se-
complicated novel-novelnya yang sebelumnya.
Overall, novel ini saya kategorikan sebagai
a should-read book, meskipun saya kurang suka endingnya karena melenceng dari harapan saya ketika membaca buku ini. :p