Showing posts with label New Authors 2013. Show all posts
Showing posts with label New Authors 2013. Show all posts

Wednesday, November 20, 2013

The Witches by Roald Dahl

Judul: The Witches (Ratu Penyihir)
Penulis: Roald Dahl
Alih bahasa: Diniarty Pandia
Ilustrator: Quentin Blake
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 240
Cetakan ke-5: Januari 2010



Apa yang terbersit di benakmu ketika mendengar kata "penyihir"? Memakai topi kerucut, sapu terbang, hidungnya mancung dan bengkok, daaaan tongkat sihir kah? Hmm, dalam kisah kali ini Roald Dahl memiliki ciri-ciri sendiri untuk mendefinisikan seperti apa sosok penyihir itu.

Aku harus tinggal bersama nenekku setelah meninggalnya kedua orang tuaku. Nenekku aslinya tinggal di Norwegia, tapi karena berbagai urusan kami berdua harus tinggal di Inggris (di rumahku). Saat berada di Oslo, Grandmamma (panggilan untuk nenekku) bercerita tentang lima orang anak yang hilang begitu saja dan bagimana cara mengenali penyihir. Hebatnya, nenekku ternyata adalah seorang pensiunan penyihirfilia, yaitu orang yang mempelajari penyihir.

"... Kau tetap tidak bisa yakin seratus persen apakah seorang wanita penyihir atau bukan hanya dengan memandangnya. Tapi jika dia memakai sarung tangan, jika dia memiliki lubang hidung besar, mata aneh, dan rambut yang kelihatan seperti wig, dan kalau giginya berwarna kebiruan--jika dia memiliki semua ciri itu, maka tindakan terbaik adalah kabur secepat-cepatnya." (h. 37)

Monday, November 04, 2013

Forgotten by Cat Patrick

Judul: Forgotten
Penulis: Cat Patrick
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Rina Wulandari
Penerbit: Mizan Fantasi
Jumlah halaman: 336
Cetakan ke-1: Oktober 2012
*Lupa beli dimana*


Novel ini sudah lama saya baca, tapi entah kenapa belakangan mood mereview sedang turun.

Cerita bermula dari London Lane yang ponselnya mati. Ponsel yang sangat membantunya mengingat hal-hal kecil yang bisa jadi penting. Eng, ya perlu diketahui, London ini memiliki keistimewaan bahwa dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi kemarin, apalagi kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarinnya lagi. Otaknya seolah ter-restart sendiri keesokan harinya. Dan ini terjadi setiap pukul 04.33. Jadi, London harus selalu menulis catatan setiap malam, apa yang terjadi hari itu, dan apa yang harus dia lakukan esok hari. Catatan ini yang membantunya menjalani kesehariannya agar terlihat lebih normal. Ah ya, meskipun tidak bisa mengingat apa yang terjadi di hari-hari kemarin, tapi London bisa mengetahui apa yang terjadi di masa depan, begitulah dia mengingat orang-orang di sekelilingnya.

Friday, October 18, 2013

Ways to Live Forever

Judul: Ways to Live Forever: Setelah Aku Pergi
Penulis: Sally Nicholls
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain dan ilustrasi sampul: Satya Utama Jadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 216
Cetakan kelima: Januari 2011
Harga: Rp 35.700
*Beli di bukabuku.com*



"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian," begitulah menurut Pramoedya Ananta Toer. Agaknya pikiran seperti ini juga dimiliki oleh Sam, seorang anak yang berusia sebelas tahun, penderita Leukemia. Dia membuat sebuah buku harian yang berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal pikirannya dan belum terjawab; tentang aktivitasnya; gambar-gambar; impiannya; banyak hal.

"Buat apa menciptakan setan untuk membuat takut diri sendiri," kata Granny dengan sangat tegas. "Sudah cukup banyak hal yang membuat kita khawatir, tanpa perlu ditambah-tambah." (h. 58)

Karena novel ini formatnya adalah buku harian, tentu di dalamnya penulis menggunakan sudut pandang Sam sebagai Aku. Satu jurnal yang ditulis Sam tidak menghabiskan banyak halaman, sekitar satu atau dua halaman kebanyakan. Nah, di dalam jurnalnya ini tidak melulu isinya tentang Sam yang sedang bercerita. Seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, Sam juga menempelkan benda-benda yang menurutnya pantas untuk ditempelkan di dalam jurnalnya sebagai kenangan. Semacam scrap book.

Monday, September 30, 2013

Liesl & Po

Judul: Liesl & Po
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Prisca Primasari
Penyunting: Esti A. Budhihabsari
Proofreader: Yunni Y. M.
Penerbit: Mizan
Jumlah halaman: 320
Cetakan I: April 2013
Harga: Rp 34.000
*Beli di parcelbuku.net*



Kisah tentang berkawan dengan hantu kerap melahirkan komentar menyeramkan atau abnormal dari mulut orang-orang yang mendengarkannya. Tapi siapa sangka hantu ciptaan Lauren Oliver ini begitu bersahabat dan tidak menyeramkan sama sekali. Liesl pun tidak berkeberatan berteman dengan mereka yang menyebut dirinya berasal dari Dunia Lain. Pertemuan Liesl dan Po, serta si anjing-kucing Bundle terjadi pada malam ketiga setelah ayahnya meninggal.

Dunia Lain adalah tempat yang sibuk--sesibuk, atau malah lebih sibuk daripada Dunia Nyata. Dua dunia tersebut bergerak secara paralel, layaknya dua cermin yang berdiri berhadapan. (h. 16)

Liesl meminta Po menemui ayahnya yang kemungkinan sedang berada di Dunia Lain. Tanpa sengaja, Po pun menemuinya. Ayah Liesl mengatakan bahwa tempatnya bukan "di sana", tapi di dekat pohon willow, sama dengan tempat peristirahatan istri pertamanya. Liesl pun berencana membawa abu ayahnya ke sana. Sayangnya, pintu kamar lotengnya terkunci dan baru dibuka ketika pembantu mengantar makanan ke loteng. Liesl dan Po pun menyusun strategi. Berkat bantuan Po, Liesl berhasil kabur membawa kotak yang dikiranya berisi abu Henry Morbower, ayahnya.

Friday, September 27, 2013

Shin Suikoden #1

Judul: Shin Suikoden
Penulis: Eiji Yoshikawa
Koordinator penerjemah: Mikihiro Moriyama
Penerjemah: Jonjon Johana
Penyunting: Tim Khansa
Penerbit: Kansha Books
Jumlah halaman: 488
Cetakan: Januari 2011
*Pinjem ke Mbak Lilis*



Kisah berawal dari malapetaka yang terjadi di benua kuning Cina (dulu disebut negara Dai Sou) kira-kira 900 tahun yang lalu. Di negara itu, beberapa tahun belakangan tanamannya tidak berbuah baik, penyakit pun mewabah, banyak orang kelaparan, mayat-mayat dibuang di jalan dan dibiarkan begitu saja, serta malapetaka lainnya. Untuk itu, Sang Kaisar memerintahkan jenderal besarnya yang bernama Kou Shin untuk  pergi ke Kuil Jou Sei di Provinsi Kou Sei. Di sana, Jenderal Kou diperintahkan untuk meminta Pendeta Besar Kyo Sei berdoa agar terhapus kesengsaraan rakyatnya. Sayangnya, pendeta besar sedang berada di puncak Gunung Ryu Kou. Setelah menyelesaikan misinya ke Gunung Ryu Kou, diadakan pesta besar-besaran di Kuil Jou Sei. Di mana ada pesta besar, di situ tentu ada arak. Jenderal Kou pun mabuk dan memaksa untuk membuka pintu terlarang tempat 108 bintang bersemayam. Karena sudah sangat mabuk, Jenderal Kou pun lepas kendali dan berhasil membukanya, lalu terbanglah 108 bintang ke seluruh penjuru.

Di sini, 108 bintang jahat yang terlepas dari kekangan turun ke dunia manusia, satu demi satu bintang-bintang itu menjelma menjadi manusia dan membentuk benteng Ryou Zan Paku, tempat berkumpulnya 108 jawara yang hampir menghancurkan Dinasti Sou. (h. 34)

Dalam buku ini diceritakan kehidupan beberapa orang yang (dalam tebakan saya) termasuk 108 jawara itu, bintang jahat bagi pemerintah--yang suka menyengsarakan rakyat.

Monday, September 23, 2013

Biru pada Januari

Judul: Biru pada Januari
Penulis: Aditia Yudis
Editor: Yulliya
Proofreader: Windy Ariestanty
Penerbit: GagasMedia
Jumlah halaman: 368
Cetakan pertama: 2012
Harga: -
*Ikutan @EstafetBuku*










"Setiap hari, Samudra selalu menyempatkan diri untuk berkabar kepada Mayra--semua itu sudah menjadi bagian dari rutinitas Samudra. Meskipun sebenarnya, kehadiran nyata Mayra di sisinya selalu Samudra harapkan. Mencintai dalam jarak sama halnya memeluk bayangan--tak terlihat, tetapi nyata."  (h. 12)

Samudra dan Mayra sudah tujuh tahun berhubungan dan saat ini mereka telah bertunangan. Waktu pernikahan mereka tersisa enam bulan lagi. Seharusnya tidak selama itu, Mayra yang meminta kepada Samudra untuk menunda pernikahan mereka enam bulan lamanya. Samudra bekerja dan telah memiliki rumah--rumah masa depannya dengan Mayra--di Balikpapan. Namun, Mayra masih belum mau tinggal di Balikpapan dan melepaskan kariernya sebagai seorang editor. Alhasil, sampai saat ini keduanya berhubungan jarak jauh Jakarta-Balikpapan, meskipun Samudra kerap datang ke Jakarta. Keduanya berkeras, karier keduanya sedang bagus di bidang masing-masing, sehingga tidak ada yang mau mengalah harus tinggal di salah satu kota mereka. Samudra yang seorang direktur perusahaan, dan Mayra yang seorang editor, ditambah lagi sebentar lagi novel Mayra akan difilmkan. Jika membicarakan soal hal ini, tidak jarang pembicaraan mereka berakhir pada pertengkaran kecil.

Wednesday, September 18, 2013

Fleur

Judul: Fleur
Penulis: Fenny Wong
Editor: Misni Parjiati
Tata sampul: Ferdika
Tata isi: S. Lestari
Penerbit: Diva Press
Jumalah halaman: 324
Cetakan pertama: April 2012
Harga: Rp 25.000
*Beli di bazar buku Gramedia Matraman*


Jika manusia diizinkan mengetahui plot hidupnya yang menurutnya kurang menguntungkan, pasti dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya dan memilih akhir yang bahagia. Setidaknya, itu yang dilakukan oleh Florence Ackerley (Flo) dan George (George) Ackerley, kakak beradik yang bukan saudara kandung. Mari kita mulai saja ceritanya.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang (?) peri bunga bernama Belidis. Belidis adalah peri bunga yang lemah. Dia tidak bisa menumbuhkan bunga-bunga seperti peri bunga lainnya. Karena itu, peri-peri lain pun mencemoohnya. Belidis tentunya sedih dan memohon kebaikan Dewa Bumi untuk diberi kekuatan agar bunga-bunganya tumbuh. Namun, setelah sekian lama belum ada jawaban dari Sang Dewa Bumi, Fermio. Hingga suatu ketika Dewa Bumi muncul, tapi karena kesal doanya yang dulu tak kunjung terjawab, Belidis pun menghardik Sang Dewa Bumi dan menyebutnya tidak pantas menjadi Dewa Bumi. Merasa tidak terima, Fermio menyalurkan kekuatannya kepada Belidis hingga dia dapat menumbuhkan bunga-bunga.

Tuesday, July 30, 2013

Best Friends Became Lovers

Judul: Best Friends Became Lovers
Penulis: A & D
Penyunting: Faisal Adhimas
Desain sampul: Oxta Estrada
Penerbit: WahyuMedia
Jumlah halaman: 385
Cetakan kedua: 2013
Harga: Rp 39.200 (diskon 20%)
*Beli di bukabuku.com*


Di kehidupan nyata, agaknya banyak yang mengalami kisah cintanya seperti judul teenlit ini. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan seringkali melahirkan perasaan yang satu ini di hati salah satu atau keduanya. Begitulah yang saya dengar dari penuturan beberapa orang. Agaknya kisah ini menjadi inspirasi tersendiri bagi A & D (siapa sih nama aslinya? -_-a) untuk membukukan kisah serupa.

Kisah dalam teenlit ini benar-benar sederhana, sangat sederhana. Secara garis besar, novel ini berkisah tentang May atau Maya, nama samarannya sebagai seorang konsultan emm..apa ya namanya? Intinya May ini sering sekali membantu mencarikan solusi bagi masalah-masalah orang lain, baik melalui blog maupun bertemu langsung (tanpa tatap muka, soalnya Maya ada di atap, sedangkan 'pasien'nya ada di ruangan di bawahnya). Plot besarnya tentu sudah dapat ditebak dari judul teenlit ini. May memiliki sahabat sejak kecil bernama Adrian. Mereka mengikuti ekstrakurikuler yang sama, yaitu sepak bola. Hanya Adrian yang tahu rahasia-rahasia May.

Friday, July 19, 2013

Avalon High

Judul: Avalon High
Penulis: Meg Cabot
Alih bahasa: Caecilia Dian Pratiwi
Desain sampul: Rizki Arnosa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 312
Cetakan kedua: April 2011
Harga: Rp 26.250 (diskon 25%)
Beli di: Gramedia Golden Trully


Reinkarnasi adalah sebuah konsep bahwa seseorang yang sudah meninggal tidak hilang begitu saja, dia akan kembali hadir di kehidupan yang lain, kehidupan beberapa waktu setelah kematiannya. Mungkin inilah yang dialami oleh beberapa siswa, bahkan guru, di SMA Avalon.

"SA (SMA Avalon) lebih kecil daripada sekolah lamaku, tapi fasilitas di sini lebih bagus dan sekolahnya punya lebih banyak uang, jadi aku tidak betul-betul mengeluh." (h. 35)

Elaine Harrison adalah gadis jangkung, anak dari dua orang profesor. Ya, kedua orang tuanya memang profesor, tepatnya medievalist, ahli sejarah abad pertengahan. Saat ini mereka sedang menjalani sabatikal, yaitu semacam cuti untuk mengikuti sebuah program penelitian demi kepentingan akademis. Orang tuanya memberi nama Elaine karena mendapat inspirasi dari sebuah karya sastra yang di dalamnya terdapat tokoh bernama Lady of Shalott alias Lady Elaine. Elaine sangat hobi mengapung di kolam renangnya sambil membaca. Selain itu, dia juga seorang atlet lari. Di SMA Avalon, dia bertemu dengan seorang cowok populer bernama A. William Wagner (Will), orang yang pernah dilihatnya berdiri di jurang. Sayangnya Will sudah memiliki kekasih yang bernama Jennifer Gold, seorang cheerleader. Meskipun Elaine tidak menyangkal bahwa ia menyukai Will, tapi Elaine tetap merasa tidak percaya diri, terlebih ketika dibandingkan dengan Jennifer, bagai bumi dan langit. Meskipun Elaine menyukai Will, tapi rupanya teman-temannya mengira bahwa dia menyukai Lance, sahabat Will. 

"... Tidak ada yang bisa menyakiti A. William Wagner dan lolos kalau sahabatnya, Lance, selalu membelanya." (h. 117)

Tuesday, June 25, 2013

Percy Jackson & The Olympians #1: The Lightning Thief

Judul: Percy Jackson & The Olympians - The Lightning Thief
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Soehindrat a. Shinta
Penerbit: Mizan Fantasi
Jumlah halaman: 454
Cetakan ke-5: Mei 2010
Harga: Rp. 45.900
*Beli di bukukita.com*


Hidup dengan label "anak bermasalah" tidak pernah mudah, terutama di sekolah. Begitu pula dengan kehidupan Percy Jackson, seorang siswa asrama di Akademi Yancy, sekolah bagi anak-anak bermasalah di kawasan New York Utara. Dalam sebuah karyawisata, Bu Dodds -gurunya- tiba-tiba berubah menjadi monster yang menakutkan, tapi Percy berhasil mengalahkan monster itu dengan bantuan pena yang berubah menjadi pedang dari Pak Brunner -guru Percy juga-.
"Aku menyambar pena itu dari udara, tetapi ketika mengenai tanganku, benda itu bukan pena lagi. Benda itu menjadi pedang -pedang perunggu milik Pak Brunner, yang selalu digunakannya pada hari turnamen." - (h. 15)
Di liburan musim panas, Percy pulang ke rumah ibunya tanpa menceritakan kejadian aneh yang baru ia alami di museum. Dia diajak pergi ke Montauk. Sampai di Montauk, Grover -sahabat Percy-, menyusul mereka dalam wujud aslinya, seorang satir. Mereka bertiga pun memutuskan untuk pergi ke Bukit Blasteran. Ada manusia banteng yang mengejar dan ingin membunuh Percy. Namun, Percy berhasil mengalahkan monster itu. Dalam pertempurannya dengan si manusia-banteng, ibu Percy menjadi korban. Setelah dicengkeram di bagian leher oleh si monster, dia berpendar, lalu lenyap.

Percy dan Grover berhasil memasuki Bukit Blasteran. Di sana dia mendapati fakta bahwa Pak Brunner adalah seorang centaurus yang bernama Chiron dan membunuh -setidaknya melenyapkan sementara, karena makhluk-makhluk ini tidak bisa mati- Minotaurus adalah sebuah prestasi besar. Percy juga berkenalan dengan Annabeth, anak Athena. Awalnya Percy ditempatkan di pondok sebelas, dengan predikat "yang belum ditentukan" karena tidak ada yang tahu, dia anak dari dewa mana. Di pondok sebelas, Percy dikenalkan dengan Luke, anak Hermes, yang juga konselor di pondok itu. Luke sangat baik terhadap Percy.

Percy dituduh mengambil petir asali milik Zeus, karenanya ia ditugaskan untuk mengembalikan senjata tersebut sebelum titik balik musim panas. Percy melaksanakan tugasnya ditemani Annabeth dan Grover. Mereka memiliki waktu sepuluh hari. Sanggupkah para remaja ini melaksanakan tugasnya? Kalau bukan Percy, lalu siapa yang mencuri senjata milik Zeus tersebut? Ikuti perjalanan Percy dan teman-temannya dalam The Lightning Thief.
"Waktunya tinggal sedikit," kata Chiron. "Kurasa, kalian semua harus berkemas." - (h. 182)


Membaca versi buku dari film yang pernah kita tonton sebelumnya seharusnya mengingatkan kita akan pemeran-pemeran bahkan adegan-adegan di dalamnya. Namun, bukan ini yang saya alami. Saya justru lupa, seperti apa wajah orang yang memerankan tokoh-tokohnya, dan hanya satu adegan yang saya ingat betul, yaitu adegan pertarungan antara Percy dan kawan-kawan dengan Medusa. Selebihnya justru beberapa adegan dalam film lain yang muncul dalam benak saya. *plak*

Ok, back to the book. Hm, saya tipikal pembaca yang kurang suka jika buku terjemahan diartikan dalam bahasa yang tidak baku, seperti novel fantasi ini. Namun, perlu saya akui, dengan gaya penerjemahan yang seperti ini, sensasi humor dari kisahnya sangat terasa. Pun ada satu scene yang menceritakan Percy sedang berbincang dengan anak seusianya yang berlogat jadul. Aneh rasanya, tapi kocak. Terlihat totalitas penerjemah dalam menerjemahkan karya Rick Riordan ini.

Salah satu keunikan buku ini adalah di awal pembaca sudah diberikan peringatan yang justru akan membuat mereka tidak akan berhenti membaca sampai di situ saja. Ini juga terjadi pada diri saya. Kata-kata tersebut seolah menantang pembacanya untuk menjelajah halaman demi halaman novel ini. Terus dan terus sampai selesai. Pov orang pertamanya seakan mengajak pembaca mendengarkan cerita Percy secara live dan mengajak mereka merasakan sensasi petualangan yang Percy alami dengan appropriate pace. Belum lagi deskripsi setting tempat, waktu, dan suasananya.

Saya suka karakter tokoh utamanya, Percy Jackson. Di sini dia tipikal orang yang diam-diam menghanyutkan. Sama sekali tidak ambisius. Dia pun menunjukkan sikap bijaksananya dan pandai menganalisis sesuatu. Setidaknya, julukan otak ganggang yang diberikan Annabeth tidak sepenuhnya benar, hehe. Penulis telah berhasil memperkenalkan tiap-tiap tokohnya dengan baik, juga nama dewa-dewi dalam mitologi Yunani beserta tugas/kekuasaan mereka.

My Rate:


Literary Awards:
School Library Journal Best Book of the Year (2005), New York Times Notable Book (2005), Young Readers' Choice Award (2008), Rebecca Caudill Young Reader's Book Award (2009), Askews Torchlight Award (UK) Winner South Carolina Book Award for Junior Book Award (2008), Grand Canyon Reader Award for Tween Book (2008), Nene Award (2008), Massachusetts Children's Book Award (2008), Sunshine State Young Readers Award for Grades 6-8 (2007), Pacific Northwest Library Association Young Reader's Choice Award for Intermediate (2008), Iowa Teen Award (2009), Abraham Lincoln Award Nominee (2009), Chicago Public Library Best of the Best Books List, American Library Association (ALA) Notable Book (2005)

Monday, June 24, 2013

Treasure Island

Judul: Treasure Island
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerjemah: Mutia Dharma
Penyunting: Ida Wajdi & Pujia Pernami
Penerbit: Atria
Jumlah halaman: 345
Cetakan ke-1 April 2011
Harga: Rp. 36.550
*Beli di bukukita.com*


Ketika mendengar kisah bajak laut, mungkin sosok Jack Sparrow dalam film The Pirates of Caribbean terbayang-bayang di benak pembaca. Namun, kisah dalam buku ini tentu menyajijakan sesuatu yang berbeda. Pastinya tanpa memunculkan makhluk-makhluk fantasi seperti di film The Pirates of Caribbean. :)

Awal mulanya, ketika Jim berusia 17 tahun, ada seorang bajak laut bernama Billy Bones datang ke penginapan ayahnya, Admiral Benbow. Suatu ketika, Black Dog, teman Billy Bones datang ke penginapan itu. Dia bertengkar dengan Billy Bones. Beberapa saat setelahnya Billy Bones terkena serangan strokenya yang pertama. Tidak lama setelahnya, tepatnya setelah ayah Jim meninggal karena sakit, seorang buta -yang belakangan diketahui bernama Pew- datang ke Admiral Benbow, dia juga mencari Billy Bones. Pertemuan orang tersebut dengan sang bajak laut cukup singkat. Tiba-tiba seletahnya sang bajak laut terkena strokenya yang kedua dan meninggal. Bajak laut itu meninggalkan hartanya -entah apapun itu- di sana, dan ini membuat Jim dan ibunya merasa tidak aman. Namun, tidak ada yang mau membantu mereka.

Setelah mengambil uang sang bajak laut secukupnya dan sebuah kertas minyak yang diduga adalah peta harta karun, Jim dan ibunya bersembunyi di dekat sungai sambil mengawasi keributan di penginapannya akibat ulah Pew dan kaki tangannya. Mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari dan mereka bertengkar. Karena mendengar suara kuda datang ke arah mereka, para penjahat itu lari dan meninggalkan Pew sendiri. Akhirnya, kebutaan dan kepanikan Pew membawanya menuju kematian. Pew mati terinjak kuda.

Setelah insiden itu, Jim dibawa ke rumah Dr. Livesey. Karena Jim membawa peta harta karun yang diambil dari sang bajak laut, maka Hakim Trelawney dan Dr. Livesey memutuskan untuk berlayar dan mencari harta karun tersebut. Sang hakim mengajak Long John Silver untuk ikut dalam petualangan. Dia adalah pelaut berkaki satu. Long John Silver nantinya bertugas sebagai juru masak kapal. Berikutnya ada Kapten Smollett yang bertugas mengemudikan kapal mereka, Hispaniola. Sayangnya sang hakim tidak terlalu menyukai sang kapten karena sifatnya yang suka memerintah. Dan mereka pun berlayar.

Suatu ketika, Jim ingin makan apel. Kemudian masuklah ia ke dalam tong apel, tapi sayang apelnya sudah habis. Karena nyamannya di dalam sana, Jim hampir tertidur. Di dalam sana, dia mendengar John Silver merencanakan sebuah pengkhianatan dan membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengannya. Jim memberitahukan itu kepada sang dokter, hakim, dan kapten. Bagaimana mereka menghadapi pengkhianatan Silver? Mampukah mereka menemukan harta karun milik Flint? Baca kelanjutannya dalam Treasure Island.
"Orang-orang hebat," jawab si juru masak, "biasanya tidak saling memercayai, dan memang seharusnya begitu..." - (Long John Silver, halaman 103)
***
Karya R. L. Stevenson ini diceritakan dengan dua sudut pandang, yaitu Jim Hawkins dan Dr. Livesey, tapi lebih banyak menggunakan sudut pandang Jim sebagai pencerita utama. Pembaca dapat dengan mudah mengenali siapa yang sedang bercerita saat itu melalui judul babnya. Di sana tertulis jelas jikalau pencerita beralih ke sang dokter.

Treasure Island didukung dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik. Tidak hanya di sampulnya saja, tapi di setiap awal bagian juga disisipkan ilustrasi yang dapat membantu pembaca mengimajinasikan cerita dalam bagian itu.

Sayangnya, ada banyak tokoh di dalam novel ini. Saya pun cukup kebingungan, terutama ketika awak kapal terbagi menjadi dua kubu, yang memihak sang hakim dan yang memihak John Silver. Kekurangan yang lainnya adalah saya tidak dapat menemukan sesuatu yang quoteable dalam buku ini, entah saya yang kurang jeli atau memang tidak ada, hehe.
My Rate:
 

Tuesday, June 18, 2013

Warm Bodies

Judul: Warm Bodies
Penulis: Isaac Marion
Penerjemah: Meda Satrio
Pemeriksa aksara: Uly Amalia
Jumlah halaman: 376
Penerbit: Ufuk Fiction
Cetakan ke-2 Januari 2013
Harga: Rp. 49.900
*Beli di Gramedia Golden Trully*

"... ironisnya menjadi zombi adalah segalanya lucu, tapi kau tidak bisa tersenyum karena bibirmu sudah busuk." - (halaman 13)
R sudah mati, dia adalah seorang zombi. Meskipun dia tidak menikmati kegiatan makannya, tapi dia butuh makan, dan dia menyukai sensasi "rasa" otak. Dia menyukai sensasinya memiliki ingatan, meskipun itu bukan ingatan miliknya. M juga zombi, memiliki hubungan yang cukup dekat dengan R. Dia menikmati kehadiran wanita, tapi juga meremehkan kehadiran mereka. M berpakaian jins sobek-sobek dan kaos putih polos. Dia bersosok tinggi besar, berjanggut, tapi botak.

R sedang sangat lapar dan mengajak M serta beberapa zombi lain yang kelaparan pergi ke kota. Dalam perburuan ini, R berhasil memakan otak seorang pemuda, namanya Perry Kelvin. Seketika berkelebat dalam imajinya memori-memori milik Perry. Melalui penglihatan ini dia mengenali Julie, kekasih Perry, yang sedang meringkuk di sudut dan terisak. Saat itu juga ada sesuatu yang mendesaknya untuk tidak memakan Julie, justru R bertekad untuk menjaga Julie tetap aman di dekatnya. Oleh karena itu, di sana R melumuri Julie dengan darah Kaum Mati untuk menyembunyikan aroma kehidupannya dan membawanya ke pesawat, tempatnya menyendiri.
"Kita harus mengingat segalanya. Kalau tidak, saat kita dewasa, semua itu akan hilang selamanya." (Julie - halaman 51)
Setelah beberapa lama Julie tinggal di lingkungan Kaum Mati, dia ingin pulang. R pun bersedia mengantar Julie pulang. Di tengah jalan, para Tulang menghambat mereka. R mencoba menjelaskan, tetapi sepertinya sia-sia. Dia -dengan menarik Julie- memutuskan untuk menerobos barisan para Tulang, dibantu oleh M. R mengemudikan Mercey -Julie yang menamakan mobil itu- menuju kota. Hujan pun turun, mereka memutuskan untuk bermalam di sebuah rumah. Keesokan harinya Julie bersiasat dan meninggalkan R di rumah itu.

M ternyata diusir oleh para Tulang dari lingkungan Kaum Mati. Dan dia bersama beberapa orang lainnya. R bertemu mereka dan menyatakan bahwa dia ingin menyusul Julie. M dan zombi lain bersedia membantu R masuk ke stadion. Rencananya adalah R berpura-pura menjadi Kaum Hidup yang sedang dikejar-kejar sekawanan zombi dan masuk ke stadion untuk meminta perlindungan. Strategi ini berhasil. R menemui Julie di rumahnya.

Karena insiden pembunuhan seorang penjaga oleh R, Kaum Hidup di stadion segera mencurigai adanya seorang zombi yang berhasil masuk stadion. Mereka pun memburu R. Julie membantu R keluar dari stadion. Sebelumnya, R merasakan seolah dia sedang berproses menuju suatu perubahan. Entah mengapa dia merasakan tanda-tanda Kaum Hidup dalam dirinya, misalnya mengalami mimpi -sesuatu yang sama sekali tidak dimiliki Kaum Mati. Lalu R memutuskan sesuatu, bahwa dia ingin bernapas lagi, ingin hidup. Julie pun bersedia membantunya. Berhasilkah misi mereka? Baca kelanjutannya dalam Warm Bodies, sebuah kisah roman antara yang hidup dan yang telah mati.
"Semua yang kau lihat, kau mungkin sedang melihatnya untuk kali terakhir." (Julie - halaman 139)

***
Banyak yang bilang kalau novel ini mengekor karya Stephanie Meyer, Twilight Saga. Saya mengakui itu, plot besarnya memang sama, kisah cinta antara manusia dan bukan manusia. Namun, tetap saja, tiap novel menceritakan ceritanya dengan kekhasannya masing-masing, even plot utamanya sama, tapi dalam detilnya pasti berbeda.

Warm Bodies dikisahkan oleh Isaac Marion dengan sudut pandang R dan Perry Kelvin. Narasinya cukup menghibur, ada joke-joke ringan di dalamnya. Dan banyak yang quoteable. Di bagian awal dijelaskan dengan begitu detil tentang diri R, sehingga pembaca dapat benar-benar mengenal sosok R, si zombi yang kehilangan jati dari, tanpa ekspresi, dan juga kehilangan kemampuan membacanya. :D

Penulis menggunakan alur maju dan mundur. Dari awal, penulis menggunakan POV R untuk menceritakan alur maju, dan POV Perry Kelvin untuk flashback ke masa lalu Perry. Tapi di bagian agak-agak belakang, jiwa Perry suka berdialog dengan R, membuat saya cukup bingung pada awalnya. Tapi setelah terbiasa dengan sistem penceritaannya, saya dapat memahami dialog antara mereka berdua.

Dalam novelnya ini, penulis berhasil memberikan peran kepada setiap tokohnya secara proporsional. Tidak ada tokoh yang terlalu mendominasi isi cerita, meskipun lebih banyak diceritakan tentang R, Julie, dan cukup banyak Perry, itupun masih dalam batas wajar karena merekalah tokoh sentral dalam novel ini.

Hal yang cukup mengganggu adalah banyaknya komentar yang dicantumkan dalam halaman-halaman awal novel ini, yang menghabiskan lima halaman hanya berisi komentar untuk novel ini. Mencantumkan komentar dari penulis lain maupun majalah sebenarnya sah-sah saja, tapi tidak perlu terlalu banyak saya rasa. Selain itu, ada sedikit salah ketik di dalamnya. Berikutnya, ada beberapa kata yang terjemahannya kurang pas atau bahkan tidak perlu diterjemahkan, misalnya "para Tulang". Lebih cocok kalau di terjemahannya tetap disebut "Bonies".
"Menulis bukan hanya huruf-huruf di atas kertas. Menulis adalah komunikasi. Menulis adalah ingatan." (Kolonel Rosso - halaman 222)

My Rate:
 

Friday, June 14, 2013

Warped

Judul: Warped
Penulis: Maurissa Guibord
Penerjemah: Anggun Prameswari
Penyunting: Fenty Nadia
Penerbit: Atria
Jumlah halaman: 370
Cetakan ke-1, Agustus 2012
Harga: Rp 42.500,-
*Beli di bukukita.com*


Istilah benang-benang kehidupan adalah sebuah kiasan bagai kita, di dunia nyata. Tapi tidak di novel ini. Kehidupan tokoh-tokohnyanya, bahkan setiap manusia, terajut dalam sebuah Wyrd yang tersusun dari berbagai warna benang kehidupan milik manusia. Norn bersaudari, tiga wanita yang bertugas menentukan komposisi benang-benang tersebut, kapan mulai memasukkan benang baru, kapan benang lain terputus. Merekalah penentu kehidupan.

Tessa Brody dan ayahnya, Jackson Brody memenangkan lelang atas sebuah buku tua dan permadani yang bergambar unicorn dengan harga yang cukup mahal, menurut Jack. Ketika Tessa menyapu permadani itu dengan jarinya, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan dia mendengar suara yang aneh. Tessa mual. Tapi dia menyembunyikan apa yang dialaminya barusan dari Jackson Brody.

Ternyata buku tua dan permadani itu adalah milik Lila Gerome, seorang wanita yang selalu muda dan cantik. Lila pun memerintahkan anak buahnya untuk mengambil kedua barang kesayangannya, apapun yang terjadi.

Tessa benar-benar penasaran dengan permadani yang kini ia gantung di kamarnya. Unicorn itu terlihat begitu nyata. Dan ketika dia menyentuhnya, kegelapan kembali menyelimuti. Tessa kembali ke masa lalunya, seperti mimpi -bagi Tessa. Hal ini menyebabkan pintalan Wyrd berubah. Berkali-kali kejadian ini berulang, Tessa seperti bermimpi kembali ke masa lalunya. Dan Wyrd terus mengalami gangguan.

Suatu hari, Tessa menemukan sehelai benang perak menggantung. Dia memutuskan untuk menarik benang tersebut, tetapi benangnya justru semakin menguntai. Lalu Tessa terlempar, dan taraaaa..sesosok pemuda muncul di kamarnya. Siapakah pemuda ini? Dapatkah Lila Gerome mengambil kembali barang-barang kesayangannya? Baca kisah selanjutnya dalam novel ini. :)

***

Ketika membacanya, saya sempat membayangkan kalau cerita ini seperti semacam dongeng versi modern, hehe. Ini dikarenakan di dalamnya ada tokoh nenek sihir yang menginginkan hidup abadi, selalu muda dan cantik. Ada juga tokoh yang dikisahkan seperti puteri dan pangerannya, walaupun mereka tidak memiliki jabatan itu. Yang berbeda adalah, dalam dongeng-dongeng, biasanya sang pangeran yang harus berusaha menyelamatkan sang puteri, tapi di novel ini yang terjadi adalah kebalikannya.

Karena berkali-kali Tessa mengalami "mimpi" tentang masa lalunya, pembaca diajak untuk ikut mundur sejenak dan lalu kembali lagi ke masa sekarang. Begitulah alur yang terjadi dalam novel ini, campuran antara maju dengan mundur. Hanya saja pemisahan cerita masa sekarang dan flashback-nya kurang rapih. Begitu pula dengan pemisahan setting cerita.  Selain itu, masih terdapat beberapa kesalahan pengetikan dalam novel ini. Tidak banyak sih, jadi masih bisa dimaafkan.

Konflik yang penulis sajikan tidak terlalu rumit. Cocok untuk dijadikan cemilan di saat ingin membaca buku yang ringan.

My Rate

Tuesday, June 11, 2013

The Book of Lost Things

Judul: The Book of Lost Things
Penulis: John Connolly
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 472
Cetakan ke-4, April 2010
Harga normal: Rp 53.000,-
*Beli di Gramedia Golden Trully*

"Segala rutinitas yang dijalaninya dengan setia rupanya tak cukup untuk mempertahankan ibunya tetap hidup. Kelak dia bertanya, apakah dia telah gagal melaksanakan salah satunya dengan semestinya, ..." - (halaman 15)
David adalah seorang anak yang begitu mencintai ibunya. Dia bahkan memiliki rutinitas sendiri karena dia percaya bahwa nasib ibunya tergantung pada setiap tindakan yang dia lakukan. Setiap hari tidak boleh ada hitungan yang salah, tidak boleh ada gerakan yang salah. Tapi toh, ibunya akhirnya tiada juga. David sangat terpukul. Namun, David masih menjalankan rutinitasnya meski tidak sedisiplin ketika ibunya masih hidup.

Rose adalah wanita yang akan menggantikan posisi ibu David, sebagai istri ayahnya. Dia adalah pimpinan rumah sakit tempat ibu David pernah dirawat. David tidak pernah menyukai Rose, bahkan setelah dia menikah dengan ayah David. Di hari pertama David mengenal Rose, di hari itu pulalah David mulai mengalami sebuah serangan. Dia bisa mendengar suara-suara di kepalanya. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini.

Setelah ayah David dan Rose menikah, mereka tinggal di rumah warisan orang tua Rose, dan David ditempatkan di sebuah kamar yang berisi banyak sekali buku. Rose merasa kamar itu yang paling cocok dengan David karena memang David sangat menyukai buku-buku. Di kamar itu dia mendengar buku-buku berbicara. Lebih banyak suara karena lebih banyak buku.
"... mereka bicara pada David dalam nada-nada berdebu menggemuruh." - (halaman 51)
"Buku-buku yang menyimpan pengetahuan kuno ini tak pernah bisa menerima kedudukan mereka disingkirkan." - (halaman 51)
David sering melihat bayang-bayang ibunya, terutama di kebun cekung. Dan pada suatu malam, dia memberanikan diri pergi ke sana untuk mengikuti suara ibunya. Sampainya di sana, ada sebuh pesawat yang akan jatuh menimpanya, David tidak memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan diri, kecuali memasuki celah tembok di kebun cekung. Celah yang akan membawa David menuju dunia lain. Dan dimulailah petualangan David yang menegangkan.

***

Sinopsis yang disematkan di bagian sampul belakang buku ini berhasil memengaruhi saya untuk membeli buku ini. Awalnya saya mengira novel ini ceritanya tentang plesetan dari dongeng anak-anak. Tidak salah memang, tapi plesetannya benar-benar di luar dugaan saya. Banyak adegan berdarah di dalamnya, sehingga tidak heran kalau novel ini dilabeli novel dewasa.

Diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, novel ini cukup menarik bagi saya. Menyajikan sesuatu yang berbeda. Itu tadi salah satunya, penulis menyimpangkan cerita dongeng yang selama ini banyak dikenal masyarakat. Kisah-kisah di dalamnya diceritakan dengan baik. Sepertinya saya tidak menemukan satu pun kesalahan penulisan di sini.

Selama saya mengikuti petualangan David ini, saya terbawa suasananya. Mencekam, berdebar, tegang, ngeri. Adegan berdarah-darah dan cukup menjijikan yang dikisahkan penulis menurut saya terlalu banyak. Tapi juga penasaran dengan halaman-halaman selanjutnya. Tapi jijik. Ya, begitulah. :p

Dan saya mendapatkan pesan moral di bagian akhir kisahnya. Silakan nanti dibaca ya, hehehe...

Recommended untuk penyuka buku yang kisahnya bloody. But, still this is not my cup of tea, so....

My Rate:
 

Monday, June 03, 2013

The First Case of Sherlock Holmes: Study in Scarlet

Judul: The First Case of Sherlock Holmes: Study in Scarlet
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Fitria Pratiwi
Penerbit: Visimedia
Jumlah halaman: 286
Cetakan ke-1, 2013
Harga: Rp. 49.000
*Beli di Gramedia Bintaro Plaza*

"Tak ada yang kecil untuk pikiran yang besar." (Holmes-halaman 102)
Dr. Watson adalah seorang ahli bedah militer. Sepulangnya dari Perang Afghanistan, ia justru mendapatkan banyak musibah. Karena kondisi kesehatannya yang buruk, akhirnya dia diberikan liburan selama sembilan bulan agar segera pulih. Dr. Watson dipulangkan ke Inggris, dan dia memilih berada di kota London. Awalnya dia hidup cukup mewah, tetapi mengingat kondisi keuangannya yang memburuk, ia memutuskan untuk mengubah gaya hidupnya dan tinggal di pedesaan.

Setelah mengambil keputusan, dia bertemu dengan Stamford, mantan asisten bedahnya, di sebuah bar -tanpa direncanakan. Dr. Watson pun menceritakan apa yang terjadi padanya, termasuk soal tempat tinggal. Stamford lalu menawarkan Dr. Watson tinggal bersama Sherlock Holmes, rekan kerjanya. Kebetulan Holmes juga sedang mencari teman berbagi tempat tinggal. Dr. Watson langsung tertarik.

Awal mula pertemuan Watson dengan Holmes, dia dikejutkan dengan pengetahuan Holmes akan banyak hal. Nyentrik. Jenius. Tapi lemah pula dalam banyak hal, terutama tentang hal-hal yang menurut Holmes tidak penting untuk disimpan di memorinya, misalnya tentang sastra dan filsafat. Gaya bicara Holmes juga sombong. Tapi minatnya akan permainan biola sangat tinggi. Walau begitu Watson tetap memutuskan untuk bersedia tinggal dengan Holmes di Baker Street No. 221B.

Awalnya Watson berpikir bahwa, seperti dirinya, Holmes tidak memiliki teman. Namun, nyatanya belakangan ada banyak orang datang ke apartemen mereka. Orang-orang tersebut adalah klien Holmes. Tidak lama berselang akhirnya Holmes mengakui apa pekerjaannya sebenarnya, yaitu seorang detektif konsultan, tempat dimana para detektif pemerintah maupun swasta melakukan konsultasi tentang kasus yang mereka tangani tapi belum dapat mereka pecahkan.

Suatu ketika dia mendapatkan surat dari Tobias Gregson, seorang detektif kepolisian. Di dalam surat itu, dia meminta pendapat kepada Holmes tentang sebuah kasus yang sedang ditanganinya. Gregson sedang menyelidiki kejadian ditemukannya mayat seorang laki-laki yang di dalan saku pakaiannya ditemukan kartu nama bertuliskan "Enoch, J. Drebber, Claveland, Ohio, AS". Tidak ada perampokan, tidak ada luka pada tubuh korban, tapi ditemukan jejak darah di ruangannya. Sebuah kata "RACHE" ditulis di dinding dengan darah.

Bagaimanakah analisis Holmes atas kasus ini? Siapakah pelakunya? Dan apa hubungan pelaku dengan korban?

temukan jawabannya dalam buku ini...

Dari kali pertama menonton filmnya di layar lebar, saya terpukau oleh sosok Holmes yang unik. Meskipun terkesan sombong, dari nada bicaranya, tapi kejeniusannya dalam menganalisis sebuah kasus benar-benar patut diacungi jempol. Hm, tapi di buku ini bukan hanya diceritakan tentang kejeniusannya menganalisis kasus. Di awal-awal juga diceritakan kebolehannya menganalisis calon teman sekamarnya, Dr. Watson dan seorang pengantar surat. Sepertinya mata Holmes seringkali bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Karakter Holmes sendiri dideskripsikan oleh penulis mengenai percakapan antartokohnya, sehingga pembaca tidak perlu lagi sibuk-sibuk menerkanya.

"Oh, aku tidak bilang ada yang salah. Hanya, pemikirannya agak aneh. Dia sangat antusias dalam ilmu-ilmu tertentu. Tapi, setahuku dia cukup menyenangkan." (Stamford-halaman 10)

Ini kali pertama saya membaca karya Sir Arthur Conan Doyle. Keinginan saya membaca karyanya adalah karena sampai saat ini saya masih menyukai kisah komik "Detective Conan", karya Doyle banyak memberi pengaruh pada cerita dalam komik ini, sebut saja penamaan tokoh utamanya. Wajar saja kisahnya begitu menginspirasi karena keapikan dan begitu sistematisnya karya Doyle ini.

Ketika membaca buku ini, saya sama sekali tidak merasakan kesulitan sama sekali. Salah satunya karena ada catatan kaki di beberapa halaman untuk membantu pembaca dalam memahami istilah ataupun ungkapan dalam bahasa asing yang penulis gunakan. Di awal bab selalu ditampilkan gambaran sebagai icon dari bab tersebut. Hal lain yang saya suka adalah sampul muka dari terbitan visimedia. Suka warna hijaunya dan ilustrasi perkotaan padatnya. :))

Awalnya saya kira Doyle juga adalah seorang detektif. Namun, ternyata dia adalah seorang dokter yang karena karya-karyanya, dia didatangi oleh berbagai kasus untuk dipecahkan. Di dalam novel terjemahan Visimedia ini, pembaca diberikan bonus, yaitu beberapa kasus yang pernah ditangani oleh Sir Arthur Conan Doyle dalam kehidupan nyatanya.

My Rate:
 
Happy reading!

Wednesday, May 15, 2013

Anne of Rainbow Valley

Judul: Anne of Rainbow Valley (seri #7 dari Anne of Green Gables)
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Esti B. Habsari
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 428
Cetakan I, 2011
*beli di bukukita.com*

Dr. dan Mrs. Blythe--panggilan Anne Shirley sekarang baru saja pulang ke desa Glen St. Mary setelah tiga bulan bepergian ke Eropa. Anne memiliki enam orang anak, yaitu Shirley, Rilla, Jem (yang lahir di House of Dream), Walter, dan si kembar Nan dan Di. Tempat favorit mereka adalah Lembah Pelangi. Ketika mereka sedang memasak ikan trout di lembah pelangi, bau itu tidak sengaja tercium oleh anak-anak pendeta. Anak-anak pendeta yang terdiri dari Faith, Jerry, Carl, dan Una langsung mencari tahu dari mana asal aroma sedap itu dan mereka menemukan anak-anak Mrs. Blythe di Lembah Pelangi.

Anak-anak pendeta bernasib jauh berbeda dengan anak-anak Blythe, mereka terlihat kurang mendapat perhatian dari sang ayah, Mr. Meredith. Baju yang mereka kenakan kumal, mereka sering berkeliaran, bahkan orang-orang menyebut mereka sebagai anak yang nakal. Ini semata-mata karena kurangnya perhatian dari Mr. Meredith atas anak-anaknya. Di rumah, mereka tinggal bersama Mr. Meredith, dan Bibi Martha sebagai kokinya. Tapi masakan Bibi Martha sangat tidak layak makan. Um, ya, itu menurut Mary Vance, gadis yang mereka temukan di lumbung tua dalam keadaan kelaparan dan sangat kacau. Namun, tidak ada yang dapat dilakukan tentang rasa masakan Bibi Martha.

Mary Vance tidak luput dari kebiasaan labelisasi penduduk Glen, karena berbicara kasar, bertempramen buruk, dan pernah mengusili Rilla Blythe. Ketika didapati bahwa Mrs. Wiley meninggal, penduduk Glen berpendapat bahwa Mary Vance harus dikembalikan ke panti asuhan karena tidak ada yang bisa menampungnya di desa Glen. Namun, Mary tidak menyukai rencana itu, dia tidak ingin berpisah dengan anak-anak pendeta maupun anak-anak Blythe. Akhirnya, Una meminta kepada Miss Cornelia untuk mau menerima Mary Vance di rumahnya.

Setelah itu banyak terjadi kesalahpahaman antara anak-anak pendeta dengan penduduk desa Glen. Karena 'rajin'nya penduduk Glen bergosip, tentu kesalahpahaman ini terus meluas sehingga semua orang melabeli anak-anak pendeta sebagai anak-anak nakal karena kurangnya perhatian dari ayahnya. Namun, Anne (Mrs. Blythe) tidak pernah berpendapat demikian. Dia selalu menanggapi 'kenakalan-kenakalan' anak-anak pendeta dengan positif.

Memikirkan apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan rasanya tidak pernah cukup aman. Saat kita membayangkan telah menyelesaikan cerita kita, takdir telah bersiasat, membalik halaman buku kita dan menunjukkan bab lain kepada kita. (hal. 175)

Apa saja yang terjadi di desa Glen St. Mary? Bagaimanakah hubungan persahabatan antara anak-anak pendeta, anak-anak Blythe, dan Mary Vance?

Di seri terakhir ini tidak banyak diceritakan tentang kehidupan Anne Shirley (Mrs. Blythe), tetapi lebih ke cerita kehidupan anak-anak rumah pendeta dan pendetanya sendiri, Mr. Meredith, mulai dari permasalahannya sampai ke cara mereka mencari solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut.

POV yang digunakan adalah orang ketiga. Pembaca diajak memahami karakter tokoh-tokohnya dengan bantuan deskripsi langsung oleh penulis cerita. Alurnya berjalan sedang, tidak terlalu cepat maupun lambat. Kesalahan tanda baca maupun pengetikan masih ada, tapi jumlahnya sangat sedikit, sehingga sama sekali tidak membuat saya terganggu untuk menikmati ceritanya. Konfliknya cukup banyak di dalam novel ini tapi tidak terlalu besar. Malah terkadang konfliknya diselesaikan dengan cara yang memunculkan konflik lagi. Emosi pembaca dibuat naik turun oleh kisah-kisah di dalamnya. 

Dari sini saya mendapat gambaran tentang banyaknya saudara kandung yang kita miliki itu ternyata cukup menantang. Dalam kasus anak-anak pendeta ini ada empat karakter berbeda yang harus dihadapi. Tidak jarang mereka berselisih pendapat. Ada yang begitu sensitif, sehingga tidak jarang dia menangis karena ketidaktegaannya atas sesuatu atau karena kesedihannya. Overall, saya sangat menikmati kisah di dalam novel ini. Penulis sangat piawai dalam menciptakan karakter-karakter tokohnya, sehingga saya benar-benar bisa membedakan siapa yang berkata begini dan begitu, siapa yang melakukan ini dan itu.. :D 

My Rate:
 

Friday, May 03, 2013

The Secret Garden: Persahabatan Sejati di Tengah Taman Rahasia

Judul: The Secret Garden: Persahabatan Sejati di Tengah Taman Rahasia
Penulis: Frances Hodgson Burnett
Penerjemah: Rien Chaerani
Penyunting: Nur Aini
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 460
Cetakan I, Agustus 2009
*Pinjem Mbak Lilis*

Mary Lennox adalah anak yang menyebalkan. Dia berwajah tirus, mungil, bertubuh kecil-kurus, berambut halus-tipis, dan bermuka masam. Ia adalah anak yang tidak diinginkan ibunya. Oleh karena itu, sejak kecil Mary diasuh oleh seorang ayah, yaitu pengasuh anak di India.

Hingga suatu pagi, kolera mewabah di India. Semua orang panik dan melupakan Mary. Kedua orang tuanya meninggal karena kolera. Mary pun dikirim ke rumah pamannya, Archibald Craven, di Misselthwaite Manor. Mary dijemput oleh Mrs. Medlock, wanita yang menurutnya orang paling menyebalkan, dengan wajah menor dan topi halus yang murahan. Mrs. Medlock mendeskripsikan tempat tinggal Mary nanti dengan cukup detil dan diam-diam Mary tertarik tentang rumah itu.

Di rumah paman Craven, dia bertemu dengan Martha, seorang pembantu muda yang berbicara dengan logat yang unik, logat Yorkshire. Dari Martha inilah dia bisa mengenal Dickon, bocah yang sangat bersahabat dengan alam. Dan alam pun seakan begitu menyukainya. Di sana, Mary juga berkenalan dengan seorang lelaki tua bernama Ben Weatherstaff dan burung robin jantan yang sangat cerdas. Hari demi hari kelakuannya membaik, ia mulai merasa lapar dan segar bugar. Akan tetapi, Mary juga beberapa kali mendengar suara tangisan anak kecil di rumah itu. Ketika dia menanyakan hal ini pada orang lain di Misselthwaite Manor, mereka seolah menutupi sesuatu.

Lalu dengan bantuan burung robin, Mary menemukan kunci taman rahasia yang sudah sepuluh tahun tidak diurus. Hari itu juga dia menemukan keberadaan taman rahasia, tentu dengan bantuan si burung robin. Ternyata taman itu tak seluruhnya mati, Mary memutuskan untuk mencabuti rumput dan tanaman liar hingga bermunculan ruang-ruang kosong di sekeliling tunas tanaman yang dilihatnya. Dan di taman itulah Mary bertemu Dickon.

Pada suatu malam, dia tidak bisa tidur, dan tiba-tiba mendengar suara tangisan sedih dari ujung koridor.  Mary segera mencari tahu dari mana suara itu berasal dan suara milik siapakah itu. Dalam waktu singkat dia sudah berada di depan pintu di balik permadani hiasan dinding dan segera mendorong pintu tersebut. Mary menemukan seorang anak laki-laki berwajah mungil dan tirus di dalamnya, kulitnya seputih gading, dan matanya seperti lebih besar dari yang seharusnya. Anak itu bernama Colin, anak laki-laki Mr. Craven. Colin selalu merasa umurnya tidak akan panjang.

Dua bocah laki-laki dan seorang gadis kecil menikmati pemandangan musim semi. Aku jamin akan lebih baik daripada obat-obatan dokter. (Dickon, halaman 254)

Bagaimanakah petualangan Mary, Dickon, dan Colin di dalam taman rahasia? Benarkah Colin tidak akan berumur panjang?
 
Diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, buku ini dengan jelas mendeskripsikan karakter tiap tokohnya. Karakter tokoh dijelaskan langsung oleh si pencerita dan melalui percakapan antartokohnya, sehingga pembaca tidak perlu repot menganalisisnya. Buku ini diceritakan dengan alur maju, slow pace, sangat menggemaskan bagi orang yang ingin segera mengetahui kelanjutan kisahnya.

Dari sisi penulisan, terdapat kesalahan yang konsisten, yaitu tidak adanya tanda koma (,) sebelum kata "sehingga" dan setelah kata "namun". Selain itu terdapat beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh di dalamnya.

Dalam buku ini terdapat dua logat bahasa, yaitu logat Yorkshire dan logat bahasa yang digunakan secara umum (tidak disebutkan nama logatnya). Sayangnya, perbedaan logat tidak terlalu kentara dalam bahasa tulis versi terjemahan. Kalau versi aslinya saya kurang tahu, hehe. Di versi terjemahan ini, yang cukup membedakan adalah penggunaan kata "aye" untuk menunjukkan persetujuan atau menggantikan kata "ya" atau "yeah". Ada juga yang diterjemahkan seperti logat jawa, contohnya kalimat: "ndak bisa make baju ndiri?, yang diucapkan oleh Martha.


Trivia
The Secret Garden pernah difilmkan pada tahun 1993. Pemainnya adalah Kate Maberly (Mary Lennox), Maggie Smith (Mrs. Madlock), John Lynch (Mr. Craven), Andrew Knott (Dickon), Laura Crossley (Martha), Heydon Prowse (Colin), dan Walter Sparrow (Ben Weatherstaff). Di film ini disebutkan kalau orang tua Mary meninggal karena gempa bumi.





Penulis

Frances Hodgson Burnett adalah penulis cerita anak-anak. Pada 1886, ia menerbitkan Little Lord Fauntleroy yang pada awalnya ditujukan unuk anak-anak, tetapi lebih disukai oleh para ibu. Dia dilahirkan di Cheetham, dekat Manchester, Inggris. Frances mulai menulis untuk mengumpulkan uang bagi keluarganya. Ia mulai menulis cerita di suatu majalah pada usia 19 tahun. Pada tahun 1870 ibunya meninggal, dan pada tahun 1872, dia menikah dengan Swan Burnett. Karya-karyanya yang lain adalah Sara Crewe, yang kemudian ditulis ulang dengan judul A Little Princess, The Lady of Quality; The Dawn of Tomorrow, The Lost Prince, The Shuttle, dan The White People.


My Rate
 
Agaknya saya memang tidak cocok membaca buku klasik. I feel bored. :p

Wednesday, February 27, 2013

Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1)

Judul: Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1)
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: Nadia Mirzha
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Noura Books
Jumlah Halaman: 320
Cetakan I, November 2012
*Pinjem dari mbak Lilis

Memiliki peran kecil dalam sebuah proyek besar dan mengagumkan tidaklah menyenangkan. "Hey, aku juga mau berperan besar! Aku juga ingin mengambil bagian, Ma.", mungkin kalimat ini cukup mewakili isi kepala Rosemary Bliss ketika hanya diminta membeli bahan-bahan 'biasa' untuk membuat resep-resep 'luar biasa'.

Begitulah. Rosemary (Rose) Bliss adalah anak kedua dari Albert dan Purdy Bliss, teenager yang biasa-biasa saja. Anak mereka yang lain adalah Thyme (Ty), si sulung yang tampan dan memesona banyak wanita; Sage, anak ketiga yang lucu; dan Parsley (Leigh), si bungsu yang mirip dengan Rose versi menggemaskan. Nama anak-anak keluarga Bliss diambil dari nama rempah-rempah. Mereka tinggal di sebuah kota kecil bernama Calamity Falls dan membuka toko roti Follow Your Bliss. Bliss sendiri sebenarnya adalah nama belakang dari Purdy.

Suatu pagi, Purdy meminta Rose dan mengajak adiknya, Sage, untuk membeli bahan-bahan kue serta menduplikat sebuah kunci perak berbentuk alat pengocok. Setelah selesai mengerjakan tugas dari Purdy dan membeli donat Stetson, mereka melihat iring-iringan mobil seperti mobil polisi menuju rumah mereka. Awalnya mereka mengira iring-iringan tersebut datang untuk mengambil buku resep rahasia, Bliss Cookery Booke. Ternyata mereka salah, yang datang adalah Walikota Humbleton, Janice Hammer, yang meminta bantuan Albert dan Purdy Bliss untuk menyembuhkan penyakit flu musim panas di sana.

Awalnya mereka agak keberatan karena dimintai tolong selama seminggu, yang artinya mereka harus meninggalkan anak-anak dan toko roti -terutama sihirnya- selama seminggu. Namun, akhirnya Purdy memutuskan untuk berangkat, dan tanpa dibayar.

Sebelum berangkat, seluruh anggota keluarga berkumpul di lantai bawah. Albert dan Purdy pun memberitahu soal ruang rahasia dan Bliss Cookery Book. Mereka berpesan agar tidak ada yang menggunakan sihir selama kepergian keduanya. Rose heran dan kecewa. Ia sangat ingin melakukan hal-hal yang dilakukan ibunya.

Setelah Albert dan Purdy pergi bersama walikota, datanglah seorang wanita muda yang mengaku bernama Lily, bibi mereka. Rose tidak percaya begitu saja, tapi bibi memiliki tanda lahir yang sama seperti milik keluarga Bliss lainnya, yaitu sebuah sendok sup di bahunya. Rose merasa tidak mampu berpaling dari Lily, sekalipun ia mencurigakan. Bahkan lidahnya kerap kelu jika ingin melaporkan ke orang tuanya yang menelepon.

Siapakah Lily sebenarnya? Dapatkah anak-anak keluarga Bliss melaksanakan pesan orang tua mereka? 

Gyaa, pertama kali melihat buku ini langsung pengen bawa pulang. Unik, dengan bagiat tepinya yang berglitter biru. Tapi, waktu itu udah beli dua buku. Untungnya mbak Lilis bisa dibujuk beli dan saya bisa pinjam. :)

Emm, seperti yang saya tuliskan di akun goodreads saya tentang buku ini, membaca sesuatu yang berbau sihir, entah kenapa sering membuat saya membandingkan dengan kisah Harry Potter, kisah tentang sihir pertama yang saya baca. Padahal kalau dicermati sebenarnya memang tidak bisa disamakan. Tiap penulis biasanya memiliki kekhasan ceritanya sendiri. Seperti dalam buku ini, khasnya berada pada resep yang ditulis dalam bentuk cerita, bahan-bahan magis, dan takarannya yang tidak biasa. Pernah membayangkan membuat kue dengan bahan ekon awan atau nyanyian burung bul-bul? Atau pernah membayangkan secangkang-ek jintan hitam atau panas setara tujuh nyala api? Unik bukan?!

Selain menyajikan fisik luar yang eye catching dan temanya yang unik, saya juga menyukai jenis huruf yang digunakan oleh penerbit. Pas, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Alurnya juga pas dengan ending yang membuat saya makin penasaran dengan kisah selanjutnya dari trilogi ini.

Masih ada sedikit kekurangan dalam buku ini, pertama penggunaan pilihan kata yang tidak konsisten, misalnya panggilan Rose kepada ibunya, di prolog disebukan "Mama", tapi bab-bab berikutnya Rose memanggil "Mom". Selain itu, pada halaman 78 ada penyebutan takaran "secangkang-ek jintan hitam", tapi di pengulangan takaran di paragraf bawahnya berubah menjadi "secangkang-ek biji-bijian hitam". Dan ada sebuah kata di halaman 150, yang entah ini typo atau EYD-nya memang salah, tertulis "melorotkan celana", padahal seharusnya "memelorotkan celana".

Karena kelebihan buku ini jauh melampaui kekurangannya, saya memberi nilai 4 dari 5.. ^^

  
    

Monday, February 11, 2013

The Secret Life of Bees

Judul: The Secret Life of Bees
Penulis: Sue Monk Kidd
Penerjemah: Endah Sulistyowati
Editor: Ayuning, Gita Romadhona
Penerbit: Gagas Media
Jumlah halaman: 428
Tahun terbit: 2012


Lily Owens adalah seorang anak usia 14 tahun yang tinggal bersama ayahnya, T. Ray-tanpa kehadiran sang Ibu dan seorang pengasuh negronya, Rosaleen Daise. Ayahnya memiliki usaha perkebunan persik. Ibunya, Deborah Fontanel sudah lama meninggal sejak usianya 4 tahun karena kecelakaan pistol, setidaknya itulah yang diingatnya.

Suatu sore, Lily memergoki Rosaleen begitu tertarik dengan tayangan televisi. Ternyata saat itu sedang disiarkan penandatanganan Undang-Undang Hak Sipil oleh Presiden Amerika Serikat. Rosaleen memutuskan untuk pergi ke Kota Sylvan dan mendaftarkan diri untuk memberikan suara pada perayaan empat Juli esok harinya, ditemani Lily yang juga ingin keluar rumah pada hari ulang tahunnya.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan tiga orang pria yang sedang bermain kartu. Mereka menghina Rosaleen dan karena marah, Rosaleen menuangkan isi kotak penampung ludah tembakaunya ke sepatu mereka. Akhirnya Rosaleen dipukuli oleh pria-pria itu. Saat polisi datang, dia justru menangkap Lily dan Rosaleen. Lily tidak berada lama di kantor polisi karena T. Ray segera membawanya pulang. Tapi sesampainya di rumah, mereka bertengkar dan T. Ray mengatakan kalau yang sebenarnya terjadi di masa lalu adalah Deborah kabur meninggalkan Lily dan pada hari ia meninggal, kembali hanya untuk mengemasi barang-barangnya.

Bimbang, gelisah, Lily seolah mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya pergi dari rumah. Dan, ia melakukannya, menghampiri Rosaleen yang ternyata sudah dipindahkan ke rumah sakit karena (katanya) jatuh dan terluka. Lalu mereka kabur dari rumah sakit dan menuju Tiburon, kota yang mirip Sylvan, tapi tanpa kebun persik. Kota yang tertulis di belakang foto Maria berkulit hitam, peninggalan ibu Lily. Foto tersebut mengarahkan mereka pada tiga orang wanita pemilik peternakan lebah, produsen Madu Black Madonna, yaitu August, May, dan June.
"Maksud perkataan May adalah ketika tiba waktunya untuk mati, maka matilah, dan ketika tiba waktunya untuk hidup, maka hiduplah. Jangan menjadi orang yang setengah-setengah dalam hidup, tetapi jalanilah kehidupan itu secara utuh, seolah kau tidak takut." (halaman 279)

Bagaimana kelanjutan kisah perjalanan Lily dalam mencari jati diri ibunya? Benarkah ibunya dulu pergi meninggalkannya?

***

Sang Ratu adalah kekuatan yang menyatukan komunitas; jika sang Ratu dipindahkan dari sarang, para pekerja bisa merasakan ketidakhadirannya dengan cepat. Setelah beberapa jam, atau bahkan kurang dari itu, mereka akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya kepemimpinan.

Kata-kata di atas adalah salah satu dari kutipan-kutipan mengenai kehidupan lebah yang digunakan oleh Sue Monk Kidd di tiap awal bagian. Saya akui memang banyak kalimat yang dapat dikutip dari buku ini. Termasuk kutipan kehidupan lebah di atas. Kalau mau diselami, kutipan-kutipan yang ada di dalam buku ini sangat bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan keseharian kita. Nilai plus lagi, cukup banyak pengetahuan tentang dunia peternakan lebah yang dapat pembaca nikmati. Ditambah, pengetahuan tentang situasi yang terjadi di Amerika sana saat rasialisme masih terjadi. I got the feelin, seriously.

Seperti biasa, saya senantiasa memiliki ekspektasi tertentu atas buku yang akan saya baca. Dan kali ini ekspektasi saya ada soal judul dengan isinya. Saya pikir di dalam buku ini penulis akan menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan falsafah hidup lebah. Ternyata tidak, hehe. Novel ini lebih menceritakan tentang proses pencarian fakta masa lalu seorang ibu oleh anak perempuannya. 

Alurnya berjalan cukup lambat, dengan POV orang pertama. Dari sini pembaca dapat merasakan kelabilan tokoh utama, Lily. Saya bisa maklum sih karena usianya yang masih belasan itu dan (mungkin) karena kondisi keluarganya yang, yeah, tanpa ibu dan dengan ayah yang seperti bukan ayahnya. Anyhow, tetep aja kalau pas baca pemikiran-pemikiran Lily yang lagi kumat labilnya bikin gemes. :D

Satu lagi kekurangannya, yaitu ada banyaknya typo dalam edisi yang diterbitkan oleh Gagas Media. Selain typo, penggunaan EYD-nya juga beberapa ada yang kurang pas, termasuk penggunaan tanda bacanya. Pun pemilihan katanya ada yang kurang pas, misalnya di halaman 19.
"Yah sebenarnya, aku berpura-pura mengerang, tetapi di dalam hati aku terlonjak senang..."
Err, mengerang??

Yap, akhir kata, saya memberikan nilai....


"Kami hidup untuk madu. Kami menelan sesendok madu setiap pagi untuk membangunkan kami dan sesendok lagi setiap malam untuk membantu kami tidur." (halaman 113)

Wednesday, January 23, 2013

Orang-orang Proyek

Title: Orang-orang Proyek (Project's People)
Author: Ahmad Tohari
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Pages: 224 Pages
Published: 2007

***

Many college students are idealist, especially the college activists. But many of them leave the idealism away when they've got their job. Because idealism can destroy their career. But few of them still bind tightly their idealism, so did Kabul.

Kabul was an engineer, in charge to monitor all of the project's activities. But so many things made him anxious. The workers had to make a bridge. Below the bridge, flew Sungai Cibawor (a river). Too many fraud in the project. Fund for buying materials was diminished, so their team could only buy materials with low quality or sometimes second materials. Errr. 

One day, he met Mr. Tarya playing flute near the river. Mr. Tarya was kinda wise and humorous person. Kabul often shares his anxiety with him while fishing, Mr. Tarya's hobby.

The project is funded by the nation. But, the ruling party wanna make this development as a campaign tool for them. They wanted it to be done when the party celebrated their anniversary. The time was too short for constucting the bridge. It could make the bridge under quality. Hadn't finished the project yet, he was asked to give some materials for the masjid renovation. Aaarrrk.

In the project, there was an administrative worker, named Wati. The togetherness between Wati and Kabul made them looked like a couple. In the beginning of the novel, we could see that Wati liked Kabul. She cared about Kabul too much, and was a bit spoiled with him. But Kabul still thought that nothing happened between him and Wati, they were just friends. Moreover, Wati had got a boyfriend, Yos, a college student.

Mak Sumeh, the owner of meals stall near the project, is the provocator for their relationship. She always provoked Kabul to have a relationship with Wati. It made Kabul felt uncomfortable, so he decided to keep of Wati. Communicated with her only when it was needed. But when he looked Wati was scowled, he felt something weird. Was he attracted to Wati?? Could he keep his idealism for being a good engineer?? For not sacrified others life??

***

This novel gives the reader representaion of what happened in New Orde in Indonesia, a dictatorship era. In this era, if you don't do the leader orders you would suspected as the member of PKI or ex-PKI (communist party in Indonesia). Then you will be "cleaned". None will find you. This threat can be frightenned the civilians and make them obey all the leader's order.

It seems that Tohari criticized the government and the civilians trough the dialogue of each characters. He criticized that the civilians must be more courageous. Actually I love the topic, it's about social life, about idealism, and bravery.

Even the author is a litterateur, it doesn't mean his writing's free from typos. There were few typos. But it's meaningless. I can still enjoy my reading. Ah, a point destructs my mood (a bit), too many Javanese (language) that i don't understand. :(

My Rate:


*) lagi nyoba posting pake bahasa Inggris..bahasa itu yes, klo udah lama gak dipake jadinya ya gitu deh.. :( (Any correction? Please contact me: azzahra.annisa15@gmail.com) >> niat bener belajarnye.. XD


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...