Judul: Jalan Cinta Para Pejuang
Penulis: Salim A. Fillah
Tahun Terbit: 2008
Cetakan: Ke-5, Juni 2011
Jumlah Halaman: 344
Penerbit: Pro-U Media
Harga: Rp 50.000
Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja
maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah
Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta
maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga
Begitulah,
kata yang tertulis di sampul muka buku ini. JCPP, begitu disingkatnya,
dimaksudkan untuk membahas cinta secara lebih fokus dan komprehensif.
Cinta yang kokoh dan mengokohkan. Bukan cinta seperti yang ada di
buku-buku roman. Tapi cinta yang suci, cinta yang hakiki.
sumber: ini, edited by: amzahro
Salim A. Fillah membagi buku ini menjadi tiga bab:
Pertama, Dari Dulu Beginilah Cinta
Tentang
cinta yang menyengsarakan jiwa. Kisah Romeo-Juliet dan Laila-Majnun
menjadi inti pembahasan. Cinta mereka, cinta yang menyengsarakan. Di
sini Salim A. Fillah menjelaskan mengenai hubungan antara cinta dan
kegilaan, seperti halnya yang dialami Majnun, si gila. Dan sebenarnya
Majnun sendiri mengakui bahwa cintanya adalah sebuah penyakit.
Katakanlah padaku: pemuda mana yang bebas dari penyakit cinta? (halaman 23)
Tentang cinta yang diyakini bisa menaklukan segalanya.
Love conquers all. Begitukah? Di sini Salim A. Fillah akan menjelaskannya. Termasuk tentang mulai dari mana sebaiknya cinta dibangun.
Kedua, Dunia Kita Hari Ini
Dalam
tema ini digambarkan betapa cepat dunia berubah. Saat ini sedang
terjadi kebangkitan spiritual. Mengikuti kegiatan pelatihan kecerdasan
spiritual menjadi sesuatu yang sedang
in. Tapi sayang, ternyata
Bapak SQ sendiri menyatakan bahwa SQ berbeda dengan beragama. Kemudian
diceritakan mengenai maraknya liberalisme, pria uberseksual, dan konflik
agama.
Ketiga, Jalan Cinta Para Pejuang
Inilah
inti materi dari buku keenam Salim A. Fillah. Yang dibagi lagi menjadi 4
dimensi, yaitu dimensi intelektulal yang dijabarkan dalam
Visi, dimensi emosional yang dijabarkan dalam
Gairah, dimensi spiritual dalam
Nurani, dan dimensi fisik dalam
Disiplin.
Pada
dimensi intelektual, disampaikan tentang betapa pentingnya memiliki
visi dalam mencintai. Memiliki visi pastinya memiliki mimpi karena mimpi
adalah bagian dari visi. Mimpilah yang memberi ruh bagi manusia untuk
terus "hidup". Dan kita wajib berencana untuk hari esok.
Dimensi
emosional, didahului dengan kisah-kisah para pecinta yang terpaut jauh
dalam kedudukan dan dalam usia. Kisah tentang Khadijah dan 'Aisyah pun
menyusul dan diikuti kisah-kisah hebat lainnya dari para sahabat.
Pada
dimensi spiritual, digaungkan bahwa nurani harus terus bergetar
menyuarakan pesan Ilahi yang senantiasa menyemangati agar kita berbuat
takwa. Di sini Salim A. Fillah mencomot kisah beberapa 'ulul azmi yang
begitu kuat keyakinannya bahwa Allah tak pernah meninggalkan mereka,
terlebih di saat genting. Di saat perintah Allah begitu tidak masuk
akal. Inilah kuatnya iman.
Dimensi disiplin. Tentang disiplin akan
perintah Allah dan RasulNya, di saat hati lapang maupun sempit,
saat-saat tersulit sekalipun. Disiplin sendiri adalah awalnya tentu
sebuah pemaksaan. Sebuah pemaksaan yang tak jarang terlahir darinya
sikap kepahlawanan, seperti kisah Rasulullah yang 'dipaksa' oleh
malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu. Beliau dipaksa membaca; saat
berselimu, beliau dipaksa bangun dan memberi peringatan. Terkisah pula
Imam Ahmad dan Imam Syafi'i di dalamnya.
***
Akhirnya
terselesaikan juga. Buku ini adalah buku karya Salim A. Fillah keempat
yang saya baca. Masih ada empat buku lagi yang belum saya baca, yaitu
NPSP, Gue Never Die, BMC, dan buku terbarunya Menyimak Kicau Merajut
Makna. Fiuuuh..masih banyak ternyata ya.
Long way to go..
Sejujurnya
saya agak kesulitan membuat sinopsisnya. Lebih mudah membuat sinopsis
dari novel atau semacamnya yang memiliki alur cerita. Walau tidak
memiliki alur cerita, tulisan beliau selalu memiliki "jalur" pembahasan
sendiri yang tetap bisa dinikmati pembaca secara runut. Nah, khusus
untuk bukunya kali, disebutkan di kata pengantarnya bahwa pembaca tidak
wajib membaca secara runut dari sub-bab pertama sampai sub-bab terakhir
karena dari mana pun dibaca, insyaAllah esensi isi buku tidak ada yang
hilang.
Dari segi pemilihan kata, Salim A. Fillah istiqamah untuk
tidak selalu menggunakan kata baku, tapi justru di sinilah uniknya
karya-karya beliau. Dari ketidakbakuannya ini justru memunculkan cita
rasa 'sastra' tersendiri. Terkesan lebih puitis, menurut saya.
Salim
A. Fillah, penulis yang mahir dalam melakukan pencomotan-pencomotan
dalil-dalil, kisah shirah Rasulullah, para sahabat, kisah-kisah bermakna
lainnya, bahkan menyisipkan sejumlah penelitian dalam tulisannya.
Beliau selalu pandai merangkai kesemuanya itu menjadi suatu bahasan yang
terkait satu dengan yang lainnya. Bagi saya, ini bukan pekerjaan mudah.
Dan selalu, ada banyak hal yang bisa kita kutip serta kita pinjam untuk
ditancapkan dalam hati dan pikiran, lalu beraksi!
Kita
yang menjalani hidup dengan mengalir seperti air, mungkin lupa bahwa
air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah. (halaman 132)