Monday, June 03, 2013

The First Case of Sherlock Holmes: Study in Scarlet

Judul: The First Case of Sherlock Holmes: Study in Scarlet
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Fitria Pratiwi
Penerbit: Visimedia
Jumlah halaman: 286
Cetakan ke-1, 2013
Harga: Rp. 49.000
*Beli di Gramedia Bintaro Plaza*

"Tak ada yang kecil untuk pikiran yang besar." (Holmes-halaman 102)
Dr. Watson adalah seorang ahli bedah militer. Sepulangnya dari Perang Afghanistan, ia justru mendapatkan banyak musibah. Karena kondisi kesehatannya yang buruk, akhirnya dia diberikan liburan selama sembilan bulan agar segera pulih. Dr. Watson dipulangkan ke Inggris, dan dia memilih berada di kota London. Awalnya dia hidup cukup mewah, tetapi mengingat kondisi keuangannya yang memburuk, ia memutuskan untuk mengubah gaya hidupnya dan tinggal di pedesaan.

Setelah mengambil keputusan, dia bertemu dengan Stamford, mantan asisten bedahnya, di sebuah bar -tanpa direncanakan. Dr. Watson pun menceritakan apa yang terjadi padanya, termasuk soal tempat tinggal. Stamford lalu menawarkan Dr. Watson tinggal bersama Sherlock Holmes, rekan kerjanya. Kebetulan Holmes juga sedang mencari teman berbagi tempat tinggal. Dr. Watson langsung tertarik.

Awal mula pertemuan Watson dengan Holmes, dia dikejutkan dengan pengetahuan Holmes akan banyak hal. Nyentrik. Jenius. Tapi lemah pula dalam banyak hal, terutama tentang hal-hal yang menurut Holmes tidak penting untuk disimpan di memorinya, misalnya tentang sastra dan filsafat. Gaya bicara Holmes juga sombong. Tapi minatnya akan permainan biola sangat tinggi. Walau begitu Watson tetap memutuskan untuk bersedia tinggal dengan Holmes di Baker Street No. 221B.

Awalnya Watson berpikir bahwa, seperti dirinya, Holmes tidak memiliki teman. Namun, nyatanya belakangan ada banyak orang datang ke apartemen mereka. Orang-orang tersebut adalah klien Holmes. Tidak lama berselang akhirnya Holmes mengakui apa pekerjaannya sebenarnya, yaitu seorang detektif konsultan, tempat dimana para detektif pemerintah maupun swasta melakukan konsultasi tentang kasus yang mereka tangani tapi belum dapat mereka pecahkan.

Suatu ketika dia mendapatkan surat dari Tobias Gregson, seorang detektif kepolisian. Di dalam surat itu, dia meminta pendapat kepada Holmes tentang sebuah kasus yang sedang ditanganinya. Gregson sedang menyelidiki kejadian ditemukannya mayat seorang laki-laki yang di dalan saku pakaiannya ditemukan kartu nama bertuliskan "Enoch, J. Drebber, Claveland, Ohio, AS". Tidak ada perampokan, tidak ada luka pada tubuh korban, tapi ditemukan jejak darah di ruangannya. Sebuah kata "RACHE" ditulis di dinding dengan darah.

Bagaimanakah analisis Holmes atas kasus ini? Siapakah pelakunya? Dan apa hubungan pelaku dengan korban?

temukan jawabannya dalam buku ini...

Dari kali pertama menonton filmnya di layar lebar, saya terpukau oleh sosok Holmes yang unik. Meskipun terkesan sombong, dari nada bicaranya, tapi kejeniusannya dalam menganalisis sebuah kasus benar-benar patut diacungi jempol. Hm, tapi di buku ini bukan hanya diceritakan tentang kejeniusannya menganalisis kasus. Di awal-awal juga diceritakan kebolehannya menganalisis calon teman sekamarnya, Dr. Watson dan seorang pengantar surat. Sepertinya mata Holmes seringkali bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Karakter Holmes sendiri dideskripsikan oleh penulis mengenai percakapan antartokohnya, sehingga pembaca tidak perlu lagi sibuk-sibuk menerkanya.

"Oh, aku tidak bilang ada yang salah. Hanya, pemikirannya agak aneh. Dia sangat antusias dalam ilmu-ilmu tertentu. Tapi, setahuku dia cukup menyenangkan." (Stamford-halaman 10)

Ini kali pertama saya membaca karya Sir Arthur Conan Doyle. Keinginan saya membaca karyanya adalah karena sampai saat ini saya masih menyukai kisah komik "Detective Conan", karya Doyle banyak memberi pengaruh pada cerita dalam komik ini, sebut saja penamaan tokoh utamanya. Wajar saja kisahnya begitu menginspirasi karena keapikan dan begitu sistematisnya karya Doyle ini.

Ketika membaca buku ini, saya sama sekali tidak merasakan kesulitan sama sekali. Salah satunya karena ada catatan kaki di beberapa halaman untuk membantu pembaca dalam memahami istilah ataupun ungkapan dalam bahasa asing yang penulis gunakan. Di awal bab selalu ditampilkan gambaran sebagai icon dari bab tersebut. Hal lain yang saya suka adalah sampul muka dari terbitan visimedia. Suka warna hijaunya dan ilustrasi perkotaan padatnya. :))

Awalnya saya kira Doyle juga adalah seorang detektif. Namun, ternyata dia adalah seorang dokter yang karena karya-karyanya, dia didatangi oleh berbagai kasus untuk dipecahkan. Di dalam novel terjemahan Visimedia ini, pembaca diberikan bonus, yaitu beberapa kasus yang pernah ditangani oleh Sir Arthur Conan Doyle dalam kehidupan nyatanya.

My Rate:
 
Happy reading!

8 comments:

  1. blogwalking..
    saya suka cerita detektif, suka juga suka Sherlock Holmes :)

    ReplyDelete
  2. suka banget sama covernya, jadi ini buku awal mula Holmes ketemu sama Dr. Watson ya, kayaknya pilihanyang tepat kalau mau memulai baca seri Sherlock Holmes :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi sayangnya dari sekian buku Sherlock Holmes yang diterbitkan Visimedia, cuma ini yang menurutku bagus, hehe. kebanyakan ada gambar muka Holmes-nya, kurang suka.. :(

      Delete
  3. Makasih reviewnya. Salam kenal, Annisa. Izin menautkan review ini blogku ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak penerjemahnya ya? Wihii~
      Salam kenal juga mbak. :)

      Silakan..silakan..

      Delete
  4. Aku agak ga sreg dengan cover2 visimedia yg kebanyakan manfaatin kepopuleran filmnya, tapi yg ini cakep :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. That's why i bought this book, salah satu yang gak ada mukanya.. :))

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...