Thursday, July 25, 2013

Islam Liberal 101

Judul: Islam Liberal 101
Penulis: Akmal Sjafril
Penyunting: Ian Hamzah
Penerbit: IndiePublishing
Harga: Rp 40.000 (diskon 20%)
Cetakan ketiga: Mei 2011
*Beli di toko buku Fatahillah STAN*

"Itulah Islam liberal... Tak perlu bekal agama terlalu tinggi untuk melihat kontradiksi-kontradiksi dalam pemikirannya. Tak mesti nyantri, tak harus jadi aktivis, tak perlu ikut banyak kajian. Orang-orang awam, selama ia jujur dengan hatinya sendiri, insya Allah akan dapat mendeteksi kesalahan pemikiran yang mereka bawa." (h. iv)
Buku ini cukup informatif menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran-pemikiran orang-orang Islam Liberal. Penulis menjabarkannya dalam lima bab, yaitu pertama, Ghazwul Fikri, perang pemikiran sendiri sudah muncul dari zaman dahulu, tengok saja kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang dijelaskan dalam awal bab buku ini. Pakaian kesombongan dikenakan oleh orang-orang liberal untuk memutar balikkan fakta, yang benar dipersalahkan, dan yang salah dipoles sedemikian rupa hingga dapat dibenarkan.

Bab kedua berjudul Dari Barat ke Timur. Pada awal bab ini dijelaskan mengenai sejarah sekularisasi di Eropa yang mengakibatkan agama menjadi sesuatu yang dapat 'dievolusikan'. Berikutnya, disebutkan oleh penulis pertentangan kaum orientalis atas Al Quran dan hadits, khususnya melalui karya tulis, misalnya Yohannes dari Damaskus (John of Damascus) dan Ignaz Goldziher (orientalis Yahudi).

Metode-metode yang digunakan para liberalis dapat pembaca temukan dalam bab ketiga, yaitu Modus Operandi. Melalui bab ini kita diberikan semacam siasat orang-orang liberal untuk memutarbalikkan fakta. Mereka melakukan permainan istilah, tuduhan palsu, pembelokan masalah, bahkan pemotongan ayat Al Quran yang tentunya dapat mengubah makna aslinya! 

"Dalam buku Charles Kurzman yang berjudul Islam Liberal, misalnya, cendekiawan yang disebut-sebut sebagai penganut Islam liberal juga mencakup Syaikh Yusuf Al Qardhawi dan Mohammad Natsir. Padahal, semua orang tahu bahwa, baik Al Qardhawi maupun Natsir sangat keras menentang sekularisme." (h. 121)

Adapula komentar yang sering mereka lontarkan ketika sedang dalam situasi terjepit. Komentar-komentar tersebut diuraikan ke dalam bab Cemoohan Mereka. Dalam bab ini, tiap komentar dituliskan dalam satu subbab, misalnya subbab "Penfsiran Siapa?" yang intinya menjelaskan tentang 'kebenaran' yang menurut kaum liberalis bersifat relatif. Menurut mereka Al Quran boleh ditafsirkan oleh siapa saja, termasuk JIL sendiri. Padahal sebenarnya seorang mufasir (ahli tafsir) memiliki requirements sendiri.

"Jika Anda berniat menentang Islam liberal secara terbuka, bersiaplah untuk difitnah... Salah satu metode yang sering mereka gunakan adalah memberi kesan bahwa mereka berada di posisi yang moderat, sedangkan lawan-lawannya mereka posisikan sebagai pihak yang eksterem." (h. 121)

Bab terakhir berjudul Al Munaafiquun, yang juga merupakan sebuah surat dalam Al Quran yang berkisah tentang orang-orang munafik, sifat-sifat mereka dan betapa berbahayanya mereka. Setelah itu, Akmal Sjafril memasukkan kata penutup dari seorang sastrawan, Taufiq Ismail. Di sini Taufiq Ismail menyumbangkan tulisannya tentang Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) yang tidak lain adalah 'anak' dari gelombang liberalisme.

***

Buku ini tentu sangat informatif. Agaknya saya cukup terbawa emosi membacanya. Gregetan terutama ketika membaca ketiga dan keempat. Gregetan sekaligus merasa 'kok ya lucu' membaca penjelasan cara mereka ngeles dari sebuah diskusi. Gregetan juga sih sama stasiun televisi yang suka menayangkan diskusi atau semacamnya dengan narasumber orang JIL. Titelnya di layar sih, cendekiawan muslim, tapi pemikirannya...

Penulis cukup banyak memberikan referensi bacaan kepada pembaca yang ingin memperdalam lagi pengetahuannya tentang JIL maupun untuk membentengi diri mereka dari pengaruh JIL atau liberalis lainnya. Saya sendiri sudah memasukkan beberapa referensi tersebut ke dalam daftar buku yang ingin saya baca. Kalau ada yang mau meminjamkan, boleh hubungi saya via komentar pada pos ini. =D

Kalau saya berpegang pada konsep substance over form, tentu saya akan memberi bintang empat pada buku ini. Namun, sayangnya dalam membuat sebuah buku, penulis sebaiknya tidak hanya membuat buku yang bagus isinya, tapi juga yang enak dibaca. Saya masih melihat banyak kalimat yang antarkatanya seperti tidak diberi spasi karena jaraknya yang sangat berdekatan. Selain itu, penulis terlalu banyak menghabiskan kertas dan tinta untuk menuliskan prakata dan kata pengantar di dalam bukunya. Total keduanya mencapai sekitar 24 halaman. Prakatanya ditulis tiap ada cetak ulang, sehingga dalam buku yang saya miliki ada tiga buah prakata. Kata pengantarnya juga terlalu panjang. 

Saya merekomendasikan buku ini untuk semua orang, dan semoga kita terhindar dari tipu daya kaum liberalis.

My Rate:



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...