Monday, July 15, 2013

Existere

Judul: Existere
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Nanik Susanti
Pemeriksa Aksara: Azzura Dayana & Erdyant
Penerbit: Lingkar Pena
Jumlah halaman: 384
Cetakan pertama, Juni 2010
Harga normal: Rp 55.000
*Beli di bazar buku Gramedia Matraman*

"... existere, orang yang sengaja menyuguhkan diri bagi sebuah penghidupan dan sebuah keberwujudan. Existere bukan hanya dalam konteks persembahan nyawa, tapi bagaimana orang memandang dirinya harus rela berkorban demi keseimbangan, demi orang lain." (h. 357)
Novel ini berkisah mengenai tiga kehidupan milik tiga wanita, yaitu Jamilah (Milla), Almaida, dan Qoshirotu Thorfi (Ochi).

Jamilah (Milla)
Jamilah adalah seorang gadis desa. Ayahnya, Sardjo, taat beragama.  Dia adalah seorang tukang becak, tetapi sakit-sakitan, sehingga tidak bisa memenuhi biaya hidup keluarganya. Meskipun serba kekurangan, Sardjo tidak pernah mau menerima uang haram. Karenanya, pemenuhan biaya hidup disokong oleh Kapsoh, ibu Jamilah. Namun, masih saja kehidupan mereka berada di bawah garis kemiskinan. Jamilah pernah bekerja di pabrik tenun, tetapi tidak lama karena akhirnya dia di PHK. Setelahnya, Jamilah pergi merantau ke Surabaya. Di sana, dia bertemu dengan Sonya, Lola, dan Rere. Tak lama setelahnya, hidup Jamilah berubah, seperti namanya yang berubah menjadi Milla.
"Jika kebahagiaan dan harta adalah persamaan linear, harusnya Milla merasa pengap di sini karena merasa jauh lebih bahagia di apartemennya yang nyaman bermandikan cahaya." (h. 131)
Almaida
"Agaknya, kemapanan tak selalu berbanding lurus dengan bahagia." (h. 116)
Seperti itulah yang dirasakan Almaida, putri seorang pengusaha ternama. Ibunya, Hepi Waluyo adalah perempuan dengan usia kepala empat, tetapi begitu cantik, enerjik, dan berkarakter. Almaida sendiri, di mata ibunya hanyalah gadis bodoh yang hanya menuruni kecantikan ibunya, tetapi tidak dalam hal kecerdasan. Malangnya lagi, Maida memiliki kakak laki-laki yang berkelakuan bejat, namanya Andre. Setelah lulus dari sebuah SMP Islam ternama, tetapi tidak diterima di mana pun, dia dimasukkan ke pesantren oleh Hepi. Dengan begitu, harapan Hepi adalah aib kebodohan Maida tidak tersebar di kalangan rekan kerjanya. Yang ada justru kesan bahwa Hepi memiliki anak yang cantik dan shalihat. Dari awal, hati Almaida berontak atas tiap keputusan yang diambil Hepi, tapi toh dia diam saja. Hingga suatu ketika dia bertemu dengan seseorang yang membuatnya merasa ada di dunia ini.

Qoshirotu Thorfi (Ochi)
Menjadi anak tunggal seorang pejabat departemen keuangan sekaligus pengusaha sukses yang dermawan adalah salah satu 'jalan mulus' yang diberikan Tuhan pada Ochi. Awalnya dia tidak tertarik untuk melanjutkan studinya ke bangku kuliah. Namun, setelah ibunya jatuh sakit, barulah Ochi tergerak untuk kuliah dan mengambil jurusan psikologi, seperti keinginan orang tuanya. Di sinilah dia memiliki teman dekat bernama Inez dan Vanya. Vanya ternyata memiliki sisi lain kehidupan yang kelam. Akan tetapi, Ochi tidak menghiraukannya. Vanya tetaplah sahabat Ochi. Suatu ketika dia bermimpi membangun DeL, rumah bagi penderita penyakit fisik maupun jiwa. Berkat kesungguhannya, tidak lama impiannya pun terwujud, meski masih sederhana, tapi DeL berhasil berdiri. Setelah lulus kuliah, dia menikah dengan Yassir, yang dikenalkan oleh Vanya dulu. Selama ini hidup Ochi berjalan sangat mulus. Akankah terus seperti itu?
"Mungkin ia pernah demikian sombong: cantik, kaya raya, keluarga terpandang, orang tua baik-baik, pantas mendapatkan Yassir yang shaleh. Mungkin, ia pernah beranggapan Vanya hanya perempuan rendah yang tak pantas mendapat apapun karena dosanya. Atas hak apa manusia mengklaim yang lain berdosa sementara dirinyalah si ahli surga?" (h. 160)
***

Novel ini jelas sekali menggambarkan betapa perasanya seorang wanita, dan betapa rentannya mereka. Perasaan wanita memang mudah sekali diombang-ambingkan. Begitu pula dengan yang saya rasakan ketika membaca novel ini. Perasaan saya campur aduk: kesal, prihatin, haru, dan tidak jarang ikut merasa bersalah, tertohok oleh beberapa kalimat yang ada di dalamnya.

Karena terinspirasi dari kehidupan yang cukup dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya, tulisan Sinta Yudisia ini jauh dari kesan mengada-ada. Pembaca seolah disuguhi berita yang disampaikan melalui sebuah cerita yang runut. Meskipun ketiga cerita ini nantinya akan terpilin menjadi satu kisah yang utuh, ketiganya tetap memiliki klimaksnya masing-masing.

Yang sepele, tapi filosofis adalah Sinta menggunakan kata "Episode" alih-alih "Bab", kata yang sangat akrab kita dengar di dunia visual (pertelevisian). Begitulah, kehidupan manusia memang terdiri dari ratusan, ribuan, bahkan jutaan episode dari manusia itu lahir hingga ajal menjemput. Setiap episode sendiri berkisah tentang kehidupan tiga tokoh utamanya.

Bagi pembaca yang menyukai sisipan ilmu pengetahuan di dalam sebuah novel, tentu tulisan Sinta Yudisia ini akan masuk ke dalam daftar kesukaannya. Sinta menuliskan cukup banyak teori-teori psikologi yang dipelajarinya semasa kuliah dulu di dalam buku ini. Namun, bagi pembaca yang kurang tertarik dengan tema psikologi, mungkin akan langsung melompati bagian-bagian itu.

Penulis juga menceritakan setting tempat, suasana, maupun waktu dengan sangat detail. Hal ini mampu membantu pembaca dalam mengimajiansikan apa yang mereka baca. Akan tetapi, bagi mereka yang lebih suka to the point mungkin akan menganggap karya Sinta Yudisia ini terlalu bertele-tele.

Hal yang cukup disayangkan adalah, banyaknya kosakata bahasa Jawa yang digunakan, tetapi tidak ada catatan kaki di bagian bawah halaman tersebut. Alih-alih dituliskan di bagian bawah, catatannya -yang berisi arti dari kosakata tersebut- dituliskan di bagian akhir novel. Tentu ini agak menyulitkan bagi mereka yang tidak memahami bahasa Jawa. Dan dari segi penulisan, masih terdapat beberapa kesalahan pengetikan.
"Betapapun manusia berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi berita kematian, terutama mereka yang memiliki arti penting dalam hidup ini, tetap saja kematian adalah berita asing yang terasa demikian cepat datangnya." (h. 207)
Di luar itu semua, novel Existere akan membuat pembacanya banyak merenungkan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya, bahkan dari bagian "Pembuka Kata" sampai ke bagian "Catatan Penulis". Saya merekomendasikan buku ini bagi para wanita, khususnya. Namun, tidak tertutup kemungkinan buku ini untuk dibaca oleh kaum pria, mengingat peranannya tentu yang sangat besar dalam kehidupan wanita-wanita di sekitarnya.

My Rate:

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...