Wednesday, September 18, 2013

Fleur

Judul: Fleur
Penulis: Fenny Wong
Editor: Misni Parjiati
Tata sampul: Ferdika
Tata isi: S. Lestari
Penerbit: Diva Press
Jumalah halaman: 324
Cetakan pertama: April 2012
Harga: Rp 25.000
*Beli di bazar buku Gramedia Matraman*


Jika manusia diizinkan mengetahui plot hidupnya yang menurutnya kurang menguntungkan, pasti dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya dan memilih akhir yang bahagia. Setidaknya, itu yang dilakukan oleh Florence Ackerley (Flo) dan George (George) Ackerley, kakak beradik yang bukan saudara kandung. Mari kita mulai saja ceritanya.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang (?) peri bunga bernama Belidis. Belidis adalah peri bunga yang lemah. Dia tidak bisa menumbuhkan bunga-bunga seperti peri bunga lainnya. Karena itu, peri-peri lain pun mencemoohnya. Belidis tentunya sedih dan memohon kebaikan Dewa Bumi untuk diberi kekuatan agar bunga-bunganya tumbuh. Namun, setelah sekian lama belum ada jawaban dari Sang Dewa Bumi, Fermio. Hingga suatu ketika Dewa Bumi muncul, tapi karena kesal doanya yang dulu tak kunjung terjawab, Belidis pun menghardik Sang Dewa Bumi dan menyebutnya tidak pantas menjadi Dewa Bumi. Merasa tidak terima, Fermio menyalurkan kekuatannya kepada Belidis hingga dia dapat menumbuhkan bunga-bunga.

Kekuatan dari Fermio tidak bertahan lama, sehingga Belidis harus rutin mendapat transfer energi darinya dan ini membuat Fermio melemah hari demi hari. Tidak kehabisan akal, Fermio mengunjungi sahabatnya, Dewa Matahari yang bernama Helras. Sayangnya, Helras tidak mau menyalurkan kekuatannya demi peri bunga rendahan. Fermio pun kembali ke bumi dengan tetap melakukan transfer energi kepada Belidis tanpa diketahui Belidis bahwa energinya makin lama akan makin berkurang. Helras menjadi penasaran tentang sosok Belidis yang mampu membuat sahabatnya rela berkorban sedemikian rupa. Kemudian Sang Dewa Matahari turun ke bumi diam-diam, menyaksikan kemesraan Fermio dan Belidis dari tempat tersembunyi.

Ketika di lain waktu Fermio hendak meminta pertolongan Helras lagi, Helras malah meminta agar Fermio menyerahkan Belidis kepadanya untuk dijadikan dewi pasangannya. Fermio menolak, Helras pun geram. Akhirnya mereka bertarung. Karena kuatnya Helras dan keadaan Fermio yang terus melemah tiap harinya, dengan mudah Helras dapat membuat Fermio sekarat dan kembali ke bumi. Helras mengutuk mereka.

"...Walau hingga kehidupan yang keberapa pun kalian saling mencintai, hingga kehidupan yang keberapa pun juga aku akan mengalahkanmu, merebutnya darimu! Hingga kehidupan yang keberapa pun kenyataan akan tetap sama, kau takkan pernah bersatu dengan Belidis. Akulah yang akan berakhir mendapatkan dirinya!"

Kisah Fermio-Belidis-Helras adalah kisah yang sad ending. Dalam kehidupan saat ini, Fermio menjelma menjadi George, Belidis menjadi Flo, dan Helras menjadi Alford Cromwell. Akankah kisah hidup ketiganya berakhir seperti masa lalu mereka?

"...Mengapa seorang Dewa Bumi sepertiku jatuh cinta pada seorang peri bunga, aku tidak tahu. Yang kutahu, cintaku kepadamu berlipat-lipat dari apa pun juga, sebesar aku mencintai seluruh bumi ini disatukan." - Fermio (h. 207)

***

Akhirnya, setelah kurang lebih dua pekan yang lalu saya selesai membaca novel ini, hari ini terbit juga reviewnya. Kesan pertama saya tentang novel ini: Novel dari penulis lokal dengan cita rasa Eropa. Setting waktu yang digunakan penulis adalah era Victoria. Dari segi cerita, isinya lumayan oke, ini membuktikan bahwa karya penulis lokal juga patut diacungi jempol. Penulis cukup bisa membawa saya menyelami emosi tokoh-tokoh dalam novelnya. Cuma ada bebapa bagian yang membuat saya heran. Pertama, soal buku yang berisi kisah Belidis-Fermio-Helras, bagaimana bisa ada buku ini? Di cerita tidak ada penjelasannya, apakah bukunya terbentuk dengan sendirinya dari kekuatan Belidis atau bagaimana. Yang kedua, menurut saya kurang lazim, Alford kembali ke masa lalunya dua kali, saat dia menjadi Helras, dan saat dia menjadi Alford. Seharusnya, Alford cukup kembali pada masa dia menjadi Helras dan kutukannya pun terhapus.

Kali ini di luar isi cerita, kita mulai dari sampul buku. Dengan nuansa coklat, sampulnya cukup bisa memberi saya "rasa" terhadap buku ini. Akan tetapi, karena saya bukan pecinta novel-dengan-gambar-orang, menurut saya, gambar perempuan di sampul belakang agak annoying. Sebenarnya novel ini sudah cukup manis tanpa ada embel-embel si perempuan. Terus, dari kutukan yang disebutkan juga di sampul depannya sudah terlihat kalau kalimat kutukannya terlalu bertele-tele. Intinya satu, tapi sampai disebut di dua kalimat.

Masuk ke komentar atas buku ini. Sayang banget, komentarnya terpisah satu di lembar lain, cuma satu kata ditambah nama dan identitas komentator. Sayang sama sisa kosong di bawah tulisan itu, yang kalau mau sebenarnya komentar itu bisa tidak dimasukkan saja atau ukuran huruf untuk seluruh komentar diperkecil, sehingga seluruh komentar dapat masuk dalam satu lembar kertas (dua halaman bolak-balik).

Balik ke halaman berikutnya, halaman 8, tertulis seperti ini, "...Namun pernahkah kamu mendengar dongeng tentang sebuah kutukan indah karena murni kecemburuan?" Emmm, kata-kata yang mana ya, dalam kutukan itu, yang indah. Kok saya tidak merasakannya.

Ketidakefisienan selanjutnya, pada beberapa halaman, disajikan kotak kecil yang berisi sebuah kalimat. Kalimat ini sepertinya semacam kalimat kunci dalam cerita tersebut, tapi ternyata kalimat itu juga ada di cerita dalam halaman yang sama. Sayang kertasnya kan? Toh bisa disiasati, jika memang penulis ingin menonjolkan kalimat kunci tersebut, dengan cara menebalkan huruf pada kalimat kunci, misalnya.

Dari segi ukuran dan jenis huruf, saya suka jenis hurufnya, tapi ukurannya terlalu besar, lagi-lagi kekurangefisienan. Saya juga agak bingung, ada kisah masa lalu yang ditulis dalam bentuk huruf miring, ada juga yang tidak. Lalu dari segi penulisan, masih terdapat beberapa kesalahan pengetikan dan penerapan EYD, contohnya penggunaan kata "namun" di tengah kalimat yang seharusnya menjadi kata hubung antarkalimat. Di halaman 54, juga terdapat kesalahan penerapan EYD, yaitu pemberian jeda antara kata "antar" dan kata "orang. Seharusnya, kata "antar" ditulis bersambung dengan kata setelahnya menjadi "antarorang". Dan masih banyak kesalahan penerapan EYD lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini.

Di luar itu, kisah Ackerley bersaudara dan Alford Cromwell tetap dapat dinikmati dengan baik. Untuk kamu penyuka genre fantasy, saya merekomendasikan novel lokal ini untuk kalian nikmati.

"Seperti kisah yang baru saja kau baca ini, kau akan mengerti bahwa sebuah keinginan yang amat kuat bisa membuat kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang bahkan kau tidak akan pernah bisa membayangkannya." (h. 321)

My Rate:

11 comments:

  1. wah, liat buku ini juga di bookfair, tapi ragu-ragu mau beli, takut g sesuai ekspektasi (^_^)

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo ragu tp penasaran, mending pinjem aja dulu, mbak. :D

      Delete
  2. nis pinjam donk #eaaa
    cerita pasangan kekasih yg dikutuk jadi kaka beradik, pernah baca di manga juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh, mau pas kopdar ato dikirim nih mbak?

      Delete
    2. Nis, gara2 baca reviewmu, jd tertarik baca ini, soal suka cerita2 yg berbau reinkarnasi atau cinta yg menembus ruang dan waktu. Trus baca ripiu2 lain di GR jadi mau baca beneran. Akhirnya dipinjemin sama mbak Dewi. Ternyata aku suka ceritanya, walau haya ku-rate 3.5 makanya aku mau punya bukunya sendiri. Cari di Jakarta susah, Diva ga ketemu di IBF. Akhirnya untunglah Nisa bersedia swap denganku. Heheheh.

      Delete
  3. Ah, ini salah satu timbunankuuuuu. Entah kapan bacanya ;p
    kayaknya seru juga nih. *cari bukunya dulu*

    ReplyDelete
    Replies
    1. pukpuk bukunya..dibaca dong kak, lumayan kok.. ;)

      Delete
  4. Wahhhh kayana keren banget ceritanya mba... jadi teringet manga nya Aurora, yang dikutuk jadi kakak adik dan ga bisa menjadi kekasih :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa ituuuu? Hihihi...aku nggak tau klo ada manga yang mirip.. :))

      Delete
  5. Udah punya ini lama, tapi belum sempet dibaca :3
    Dan sepertinya habis baca review kakak, nggak jelek-jelek amat :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...