Friday, November 08, 2013

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Judul: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis: Tere-Liye
Desain dan Ilustrasi Sampul: eMTe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 264
Cetakan ke-6: April 2012
*lupa beli dimana*



Cinta datang tanpa dikomando. Tiba-tiba dia muncul begitu saja. Aku pun tidak bisa memerintah kepada siapa cintaku harus berlabuh karena cinta berproses secara alami.

Oh iya, perkenalkan, namaku Tania. Malam ini aku berdiri di sini, di dekat jendela lantai dua toko buku terbesar di Depok untuk mengenang masa laluku bersama ibu, adikku (Dede), dan tentu saja dia, malaikat kami yang bernama Danar. Dialah yang memberi kami sekeluarga janji kehidupan yang lebih baik. Masa depan yang lebih indah.

Aku dan adikku tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah metromini. Kala itu, kami sedang mengamen, seperti biasa, dan dia tampaknya pulang kerja. Saat sedang meminta uang ke penumpang metromini, kakiku terkena paku payung. Hanya dia yang merespon kesakitanku, sedang penumpang lain cuma melongok atau bahkan tak acuh pada keadaanku.

Dia beranjak dari duduknya, mendekat. Jongkok di hadapanku. Mengeluarkan sapu tangan dari saku celana. Meraih kaki kecilku yang kotor dan hitam karena bekas jalanan. (h. 23)

Keesokan harinya kami tidak sengaja bertemu lagi, di bus jurusan yang sama. Dia menghadiahkan sepatu untukku dan adikku. Setelah itu, pada pertemuan-pertemuan kami berikutnya dia terus memperbaiki nasib kami. Menyekolahkanku dan adikku, membelikan perlengkapan sekolah, plus menyuntikkan dana bagi ibuku agar bisa membuka usaha. Dia benar-benar malaikat kami. Atas segala kebaikannya, aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus mematuhinya.

Dia tidak memaksa kami berhenti mengamen, meskipun aku tahu uang yang diberikannya kepada Ibu jauh lebih banyak daripada semua penghasilan kami selama sebulan digabung. (h. 34)

Sayangnya, dia sudah punya Kak Ratna. Aku tidak menyukai Kak Ratna, orang yang mengambil semua posisiku ketika bersamanya. Hingga suatu malam, Ibu sakit parah. Kata dokter, semua sudah terlambat. Ibu akhirnya meninggal. Sebelumnya, Ibu berpesan padaku bahwa aku tak boleh menangis demi siapapun, kecuali dia. Setelah kepergian Ibu, kami tinggal di kontrakannya. Aku yang mendapat beasiswa ke Singapura hanya sempat merasakan sebentar tinggal di kontrakan yang tidak terlalu luas itu.

 "Semua ini membanggakan, Tania. Aku akan bilang ke semua orang  yang kukenal bahwa kau anak yang bisa dibanggakan...." Dia memelukku erat. Dan demi itu, andai kata bisa, aku tak ingin melepaskan pelukannya. (h. 72)

Singkat cerita, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya. Tapi, Kak Ratna ada di sampingnya...

***

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin adalah karya Tere-Liye pertama yang saya baca. Kurang lebih isinya tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada seorang laki-laki yang begitu baik padanya, pada keluarganya. Namun sayang, usia mereka terpaut cukup jauh, sekitar empat belas tahun. Kebaikan laki-laki seringkali meluluhlantakkan hati perempuan. Seringnya begitu nggak sih? Kebanyakan perempuan itu, dibaikin dikit, langsung masuk ke hati, apalagi kalau dibaikinnya sama gebetan. Klepek-klepek deh itu. Cuma beberapa yang punya hati tangguh (atau dingin?). Sebenarnya sih menurut saya gak masalah ya, jatuh cinta dengan orang yang usianya terpaut jauh. Jadi, saya agak gemes aja baca cerita ini. Nggak usah diceritain detailnya kenapa ya, nanti malah spoiler. Dan di dunia ini banyak woooy yang kayak gitu, tapi mungkin beberapa ngerasa nggak enak sama omongan orang, kayak kasusnya si ehm...si itu lah..

Kisah yang diceritakan dengan alur maju-mundur ini sukses membuat emosi saya dipermainkan. Saya sebel dengan kedua tokoh utamanya. Sebel sama Tania karena sangat suka berasumsi ini-itu. Sebel juga sama Danar karena dari awal nggak mau mengakui perasaannya, yang justru menyebabkan orang lain menderita. Terus, menurut saya, agak aneh kalau Ibu Tania bisa tahu anaknya nanti akan jatuh cinta dengan sang malaikat. Kalaupun karena membaca ekspresi Tania ketika Ratna bersama Danar, tapi.... apa iya bisa sebegitu yakinnya sampai dibikin jadi wasiat sebelum mati? Padahal bisa saja kan ngambek-ngambeknya Tania sama Kak Ratna itu karena posesifnya seorang adik atas kakaknya. Teruuus, wasiatnya kok yaaa...engg, menurut saya lagi nih, aneh aja wasiatnya kayak gitu. Biasanya mah, wasiat biar tetep rukun sama saudara-saudara atau apa. Lah ini wasiatnya....jangan menangis kecuali demi dia, bahkan nggak boleh demi adikknya, adik kandungnya... Oh NOOO! Please deh, maaakk, yakali orang lain lebih penting daripada saudara kandung. http://eemoticons.net

Oke, pindah ke lain hal, gaya menulis. Saya cukup menikmati gaya menulis yang disajikan oleh Tere-Liye. Ngalir aja, gitu. Tapi sayang, gaya menulis yang apik ini masih dihiasi beberapa kesalahan pengetikan, entah itu tanda baca yang tidak pada tempatnya, maupun frase yang hilang salah satu katanya. Ada juga ketidakkonsistenan penggunaan huruf miring pada kata "dia". Kadang dicetak miring, kadang tidak. Where was the proofreader?

Sampul novel ini ciamik deh, IMO, terutama kalau dilihat sampul belakangnya, berasa tiga dimensi. Waktu saya tengok di bagian belakangnya, otomatis saya meraba-raba si sampul. Saya kira ada "jendulan" yang membuat kulit kayunya terlihat seperti ditempelkan ke sampul, ternyata nggak ada.

Akhir kata, mari kita pulang saya merekomendasikan novel ini untuk kamu yang penasaran sama karyanya Tere-Liye. *Lah, kenapa novel ini? Kenapa nggak novelnya yang lain aja* Yaaah, soalnya saya baru baca yang ini. Itu aja sik.

Benarlah kata orang-orang, prinsip hidup itu teramat lentur. Prinsip itu akan selalu berubah berdasarkan situasi yang ada di depan kita, disadari atau tidak. (h. 114)

My Rate:


17 comments:

  1. Saya sudah baca juga buku ini :D
    walaupun menurut saya,alurnya cukup lambat, tapi masih enak aja buat dihabiskan bukunya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Deskripsi yang dibikin tere liye soal tempat maupun situasi sekitar detil banget sih, jadi kesannya lambat.. :v

      Delete
  2. Belum baca yang ini si >.< Kalo buku Tere Liye saya baru baca Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Sholat Delisa dan dua buku itu recomen banget lah ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya yang hafalan sholat delisa bikin nangis ya? Kayaknya udah jarang liat di tobuk. >_<

      Delete
  3. Waduh, baca buku malah dibikin sebel. Mungkin kalo aku yang baca udah nggak tahan. Covernya aja aku kurang suka. Terlalu penuh. Rasanya si judul kurang panjang :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebel karena karakter tokohnya sih. Sisi positifnya mungkin itu artinya, penulis pinter bikin cerita yang bisa mainin emosi pembaca.. =D

      Delete
  4. Sebenarnya Saya suka dengan sosok penulisnya. Tere Liye. Dia itu inspiring. Apalagi kalau baca facebooknya. Beuh
    Anyway, pas membaca review dari mbak. Kok menurutku ceritanya biasa saja yah. Cinta karena beda umur yang terlampau jauh. Sudah banyak kok yg sudah seperti itu. Contohnya saja dulu Rafi Ahmad & Yuni Shara. So, menurutku alur ceritanya sudah pasaran.
    Selain itu, Saya juga tidak suka dengan cerita yang dibuat-buat seperti kata mbak "agak aneh kalau Ibu Tania bisa tahu anaknya nanti akan jatuh cinta dengan sang malaikat. Kalaupun karena membaca ekspresi Tania ketika Ratna bersama Danar, tapi.... apa iya bisa sebegitu yakinnya sampai dibikin jadi wasiat sebelum mati? Padahal bisa saja kan ngambek-ngambeknya Tania sama Kak Ratna itu karena posesifnya seorang adik atas kakaknya".

    Terakhir, saya juga enggak suka dengan tulisan yang typo (tidak konsisten tulisan miring). Hellooo, masa iya sekelas novel enggak diperhatikan tulisannya.

    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, Gen (pakai rambainya atau nggak nih? =D)

      Cerita yang temanya udah umum dipadu dengan gaya nulis yang ciamik pasti tetep berkesan buat pembaca, tapi sayangnya ya itu tadi, kayak yang saya ceritakan...sayang beribu sayang...mungkin krn berharap dapet yang lebih ya, dari jalannya cerita maupun dari minimalisnya typo..typo itu manusiawi, tp klo kebanyakan ganggu juga..

      Delete
  5. Hih aku lumayan agak males tuh soalnya ya itu, cewek dibaikin dikit sama cowok langsung klepek2.. Tapi aku sukanya itu awal sama endingnya, yang dia menyendiri di toko buku trus pas udah selesai mengenang semua, penghabisan ke si tokoh laki2nya. Endingnya juga ga klise, dibandingkan sama Sunset Bersama Rosie yang endingnya seharusnya happy tapi bikin kesel orang karena egois.. Endingnya Daun ini keren banget, ngga egois dan different.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku paling suka cara tere-liye deskripsiin suatu tempat....detiiiiil banget, jadi gampang merasakan ada di tempat itu..trus pas weekend lalu ke depok, merhatiin seberang Gramed Depok emang ada tmpt fotokopian & cetak foto.. XD

      Delete
  6. aku juga agak sebel sama Danar and Tania. masa sih Tania nggak bisa move on dari cinta masa kecilnya, kan Tania udah jauh dari Danar sejak dia masih sekolah sampe selesai kuliah, serasa gimana gitu.. dan Danar, haduh,, dia ini menurutku (ini menurutku lo ya..) agak plin plan gimana gitu, dulu aku penggemar Tere Liye, tapi buku ini bukan favorit aku. (baca buku ini aku jadi inget film india *blushing* yang ceritanya hampir mirip, emaknya meninggal dan ninggalin anak cewek (tapi si prianya dulu suka sama emak si anak) dan minta tolong buat ngejagain dan besarin anaknya dan anaknya ternyata suka sama si om om ini.. hehehe *maaf komennya kepanjangan*

    ReplyDelete
    Replies
    1. huahahahaha...aku nggak tau lho film India itu. Padahal jaman kecil suka nonton, apalagi klo yg main Shahrukh Khan atau Hrithik Roshan.

      Delete
  7. Aku belum baca sih buku itu, tapi sudah sempet denger beberapa orang ngebahas buku itu. Hahaha, buku kok malah bikin sebel orang, berarti bagus tuh. Berarti penulisnya bisa meninggalkan kesan tersendiri, yah meskipun kesannya menyebalkan. Kadang aku juga gitu, habis baca novel bukannya senyum-senyum malah marah-marah gara-gara cerita gantung banget dan pingin penulisnya buru-buru bikin kelanjutannya...

    ReplyDelete
  8. Sudah baca, dan beberapa kali baca buku Tere Liye, ternyata aku nggak bisa memasukkan dia dalam list penulis favorit. Cara berceritanya enak. Tapi entah kenapa ada beberapa hal yang aku gak sreg aja. Tetep menikmati bacanya, baru sampai tahap "it's ok" buatku. Kalau ada pinjaman buku Tere Liye lainnya, tetep pengen coba baca lagi kok XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama luuuu. Eng, aku juga prefer minjem kayaknya sih. Atau klo ada obralan lumayan juga. :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...